Sebuah Babak Baru

London, 25 Oktober 2016

Hi, Mate! How are you doing? 

Nampaknya sapaan itu sudah mulai familiar di telingaku. Diucapkan dengan aksen British kental.

I am all good! – Jawabku

Ya, disinilah aku sebulan lebih tidak terasa. Kota London dengan segala hiruk-pikuk dan udara dinginnya yang tak kenal pagi, siang, atau malam. Namun, untungnya kota ini menawarkan berjuta pesonanya kepada penghuni ataupun turis yang tak lelah berfoto disana-sini. Dari mulai taman-taman hijau yang indah nan rapi, hingga bangunan tua bersejarah dari zaman tempo Inggris berdigdaya di dunia. Aku sangat menikmati pelayanan publik, yang sayangnya, belum bisa aku cicipi di Indonesia: trotoar ramah pejalan kaki, udara bebas polusi (meski orang-orang sini berkata sebaliknya), sistem transportasi yang apik, dan sistem informasi yang sangat komprehensif! Tidak ada alasan semestinya untuk mengeluh.

Semestinya.

...But I’m kinda a bit scared.. – Lanjutku

Ya, setelah aku mulai memasuki tahun akademik baru ini.

“Neoliberalism and Health: The Linkages and the Dangers” oleh Ted Schrecker

Adalah salah satu bacaan di daftar literatur untuk salah satu mata kuliahku. Sangat asing untukku yang memiliki latar belakang medis, yang selama ini hanya membaca artikel dari jurnal kesehatan medis: “Efektivitas terapi obat X untuk penyakit Y” atau mentok-mentok “Prevalensi penyakit X pada populasi Y”, atau semacamnya. Jadi bisa terbayang kan kemampuan rasionalisasi otak ini harus berdaptasi sebagaimana rupa sehingga tidak hanya menggunakan pola “eksakta” nya saja, tapi juga “sosial” nya, yang selama ini aku anggap ‘abstrak’.

Bukan hanya itu.

Kebetulan jurusanku adalah jurusan yang jadwal kuliahnya cukup padat. Empat hari seminggu, pagi hingga sore. Disaat jurusan teman-temanku yang lain (dan juga kampus lain) kebanyakan lebih jarang daripada itu. Bukan hanya dari segi jadwal, pelajarannya pun cukup sukar. Hmm, yah paling tidak untukku sendiri. Tiap kuliah harus diikuti dengan konsentrasi tinggi. Meleng sedikit, bubar. Belum lagi tantangan pengucapan aksen British yang digunakan dosen-dosen bervariasi. Jadi butuh usaha ekstra untukku yang telinganya belum mahir mendengar cuap-cuap mereka. Ah, belum lagi tugas essay-nya yang menuntutku untuk menuangkan ide panjang-lebar dan kritis. Kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat disini bagaikan “blessing in disguise” bagiku, karena disaat semua aktif berbicara di kelas, aku justru sibuk terpana dengan fenomena dinamisnya kelas, betapa teman-temanku punya pemikiran (dan pengalaman) sekeren dan semendalam itu. Saat itulah aku sering merasa inferior dengan budaya Indonesia yang pasif. Mengapa dulu aku tidak dididik untuk berpikir kritis untuk sebuah isu yang nampaknya sederhana?

Lalu aku terus dibayangi ketakutan akan tantangan-tantangan yang mungkin akan datang lebih banyak lagi.

Bayangkan, ini baru Term 1. Bagaimana kalau aku tidak bisa meningkatkan performaku ke depannya? Ada momen dimana belajar di perpustakaan tidak seasyik dulu, perjalanan balik ke rumah rasanya hampa, semua serba rutinitas monoton, telepon dari kampung halaman tak mampu mengubah suasana hati yang terlanjur muram, kepercayaan diriku turun.

Kota London perlahan, tapi pasti, jadi tidak secerah dulu. Musim dinginnya datang lebih cepat. Suram.

Tapi, hei.

It is what you’ve asked for, Bel!

Ya, menjejakkan kaki di tanah negeri Queen Elizabeth adalah mimpiku dari sejak masih duduk di sekolah tingkat menengah pertama! Apalagi bisa mengenyam pendidikan lanjut dengan beasiswa di salah satu kota terbaik di dunia! Tidak pernah lupa, dulu sering berkelakar dengan teman-teman tentang impian kita untuk mengarungi negeri ini dengan segala fantasi kita tentang idola kita masing-masing: David Beckham, Prince William, dan Daniel Radcliffe. Hingga sekarang impian itu terwujud. Magis!

Ya, menjejakkan kaki di salah satu kampus terbaik dunia dan belajar di bidang “Public Health” adalah juga impianku sejak masih duduk di bangku kuliah. Gemas karena tahu bahwa masalah-masalah kesehatan di Indonesia, baik kota maupun desa, tidak lepas dari determinan sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang masih ditelantarkan. Gemas karena masih banyak orang miskin lebih memilih beli rokok daripada susu untuk anaknya. Aku ingin berbakti kepada negeri dengan caraku sendiri, bukan hanya mengobati orang yang sudah terlanjur sakit.

Lalu aku berada pada titik itu, dimana menyadari bahwa Tuhan saat ini sedang berkehendak dalam kerahasiaan. Aku ada disini pasti adalah bagian dari rencana-Nya, kehendak-Nya! Dan apa yang Ia sudah tuliskan untuk setiap makhluk-Nya tidak akan berakhir sia-sia jika dijalankan dengan usaha terbaik serta ikhlas.

Aku pun mulai tersenyum. Sadar bahwa inilah yang dinamakan proses menjalani cita-citaku. Impian yang sudah kupupuk sejak lama dan saat ini kutuai sedikit demi sedikit. Terjal bukan hanya ada disaat menggapai mimpi, tapi juga saat menjalani mimpi itu sendiri. Sungguh Tuhan memang Maha Besar dan Maha Bijaksana, senantiasa memberikan ujian sehingga aku bisa terus bertumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik.

I am living my dream now!

Aku pun berada pada titik itu. Siap menjalani mimpiku,

siap memasuki babak baru 🙂

Advertisements

2 comments

  1. Reza · October 26, 2016

    Kalo kata sindhu bel, anak eksak di indonesia dibiasain untuk cuma konsentrasi sama bidangnya, diajarkan positivism untuk melihat bahwa dalam gambar besar sosial-ekonomi-politik semua sudah dipegang dengan baik dan kita tidak perlu lagi berpikir kritis untuk mendekonstruksi atau sekedar mengkritisi hal di luar bidang eksak kita. To keep the machine works without knowing what really is the end products of this machinery.

    Tapi tantangan baru untuk berpikir kritis ternyata menarik kan?

    • belabelle · October 26, 2016

      Eh ada reza! hahaha setuju gue. menarik banget belajar membangun argumen di bidang yang totally different ini. Padahal ya kalau pola pikir kita diubah, bakal lebih banyak Habibie-habibie lain yang piawai memimpin Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s