Pesan Di Balik Musibah Dokter di Pedalaman

I don’t know whether it is necessary for me to raise voice in this issue, since I hate to be considered as one of those reactive commentators, but then I realized this internship topic is just getting so confounded. So yes I have to admit my intention, on behalf of myself, to use this moment as a perfect opportunity to speak out my mind.

Pertama-tama perkenalkan dulu saya adalah dokter internsip yang sudah hampir sembilan bulan lamanya bertugas di Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Ketika pertama kali mendapat kabar bahwa terdapat seorang dokter internship di pedalaman Kepulauan Aru, Maluku (bukan Papua) meninggal dunia akibat sakit parah, hati saya terhenyuk. Membayangkan dia adalah sejawat yang profesinya persis sama seperti saya, bekerja sebagai dokter internsip di pedalaman timur Indonesia. Masih berada di awal perjalanan dalam karir dokternya. Tidak bisa dipungkiri, risiko sakit ‘yang aneh-aneh’ memang cukup tinggi di wilayah yang masih endemis penyakit tertentu. Sebut saja malaria, kusta, cacingan, HIV, dan TBC. Ditambah lagi kalau daya tahan tubuh menurun dan disertai dengan pekerjaan yang memaksa kita terpapar oleh penyakit-penyakit tersebut. Dokter adalah salah satunya.

Sejauh informasi yang saya dapat, tidak ada yang salah dalam penanganan kasus Almarhum dr Andra. Semua tim medis di rumah sakit setempat telah bekerja semaksimal mungkin memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menolongnya. Alasan tidak dirujuk karena memang kondisinya saat itu untransportable, artinya karena alasan medis, pasien tidak memungkinkan untuk dirujuk karena sedang berada dalam kondisi kritis. Di satu sisi, pemerintah daerah juga sudah menyediakan transport tapi lagi-lagi, kondisi dr. Andra yang tidak memungkinkan untuk dipindahkan.

Jika memang selama enam bulan terakhir tidak ada manajemen rumah sakit yang salah atau supervisi internsip yang lalai sehingga berpengaruh terhadap kesehatan dr Andra, menurut saya ini tidak ada sangkut-pautnya dengan internsip. Apalagi menyalahkan program internsip sebagai penyebab utamanya.

Why it has to be doctor?

Ya, kenapa harus dokter yang diberitakan? Kondisi yang tidak menguntungkan ini bisa saja telah terjadi beribu-ribu kali pada profesi selain dokter. Misal ensefalitis pada tukang ojek di satu pulau Bacan, stroke hemoragik pada ibu-ibu penjual sayur di pasar di pedalaman NTT, atau ensefalopati hepatikum pada petani di pedalaman papua sana, dan masih banyak lagi kasus serupa yang berujung kematian. Mereka semua memiliki keadaan lingkungan yang mirip: di pedalaman, penghasilan tidak seberapa, rumah sakit fasilitas terbatas, akses ke kota sulit. Mereka bahkan tidak jarang adalah tulang punggung keluarga. Kalau dipikir-pikir lagi mereka lebih kurang beruntung dibandingkan dr Andra, karena belum tentu pejabat setempat mau bersusah payah menyiapkan kendaraan untuk khusus merujuk pasien yang notabene hanya penjual singkong. Tapi kenapa media tidak pernah menyorot mereka? Apa keluarga pasien menuntut rumah sakit atau bupati karena tidak membantu proses perujukan? Sepertinya tidak.

Akan lebih bijak jika memandang pengalaman dr Andra sebagai trigger kita bersama untuk mengevaluasi isu yang lebih besar lagi, yaitu akses dan kualitas pelayanan kesehatan di pedalaman Indonesia yang masih minim. Kondisi ini berdampak luas bagi masyarakat setempat yang juga membutuhkan pertolongan medis layaknya dr Andra. Entah apa yang membuat penyakit dr Andra bisa menjadi berat, karena sangat jarang sebenarnya morbili bisa berkembang menjadi ensefalitis, sorotan publik menjadi mempertanyakan “sudahkah layanan kesehatan di pedalaman berkualitas? Apakah dokter di daerah terpencil sudah dijamin kesehatannya?” Menurut saya bukan isu utama disini. Justru masalah yang lebih penting sudahkah pembangunan di daerah berpihak kepada kesehatan publik? Apa upaya pemerintah daerah untuk membuat penduduknya tercover dalam BPJS?

Belum lama ini saya mendapat kabar bahwa ditengah sengitnya persaingan pilkada di daerah saya bekerja, para calon bupati dan wakil bupati mengeluarkan segala upaya untuk mengambil hati masyarakat. Salah satunya dengan mengeluarkan semacam ‘kartu sehat’  yang menggratiskan biaya kesehatan. Sekilas nampak menarik, tapi apakah ini solutif? Menurut saya ini sifatnya sangat parsial dan justru bertentangan dengan upaya pemerintah pusat yang tengah mempromosikan BPJS. Masyarakat menjadi enggan mengurus BPJS dan sulit untuk dirujuk ke layanan kesehatan yang lebih tinggi karena ‘kartu sehat’ ini tidak meng-covernya.

Isu ini makin dibuat kacau setelah blunder yang ditunjukkan oleh Menteri Kesehatan kita tentang pernyataannya yang salah tentang dokter internsip. Membuat kita berpikir ulang tentang eksistensi program ini di kalangan kementerian kesehatan dan masyarakat. Namun, seyogyanya momentum ini jangan dihubung-hubungkan dengan kasus masalah yang menimpa dr. Andra. Kita boleh mempertanyakan program internsip setelah kelalaian pernyataan ibu menkes, tapi jelas jangan mereduksi amanah yang didapat dari kasus dr Andra. Terkecuali jika dalam inverstigasi lebih lanjut ditemukan adanya keterkaitan antara mismanagemen internsip dengan penyakit yang diderita oleh almarhum.

Bagaimanapun juga saya percaya bahwa program internsip masih memerlukan perbaikan di sana-sini. Hal ini berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman yang sedang menjalankan internsip. Namun demikian, mari kita menjadikan musibah yang terjadi pada sejawat saya di Kepulauan Aru sebagai pelajaran yang berharga untuk melihat kondisi kesehatan masyarakat Indonesia dan mengevaluasi sistem kesehatan kita lebih jauh lagi. Apakah kita semua sudah setara? Apakah negara benar-benar sudah menjamin kesehatan warga negaranya?

Ada masalah yang lebih besar dibalik judul headline news “Dokter muda meninggal di pedalaman”

I would like to convey my greatest respect to dr. Dionisius Giri Samudra for his dedication to humanity. May he rest in peace. Surely his passing has arisen our spirit to build up a better health in Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s