Tantangan Masa Kini Itu Bernama: Merujuk Pasien

Kesulitan merujuk pasien mungkin sudah banyak dialami dokter-dokter umum di tanah air. Letak kesulitannya bukan pada keterbatasan dokter spesialis yang bisa menangani pasien yang dirujuk, tapi ya simply karena “pasiennya ga mau dirujuk, Dok”

Sederhananya, merujuk pasien artinya meminta bantuan dokter yang lebih ahli, dalam hal ini dokter spesialis, untuk melakukan pelayanan medis sesuai dengan kompetensinya. Bisa dari mulai mendiagnosis penyakit hingga tata-laksananya. Hal ini dikarenakan banyaknya penyakit yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dan juga peralatan medis yang tersedia di banyak daerah masih terbatas. Namun sayangnya, kesempatan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih layak ini justru dilihat oleh pasien sebagai hal yang sebaliknya.

Semua karena uang

Adalah pasien saya masih belia, usia 18 tahun sedang hamil anak pertamanya. Di Poli kebidanan saya pertemu kali bertemu dengannya. Semua hasil USG janinnya baik. Kecuali satu hal: tekanan darahnya tinggi. Setelah mengucapkan selamat kepada ibu muda ini karena calon bayinya masih sehat, ia harus menelan pil pahit bahwa kenyataanya kehamilannya disertai komplikasi yang berbahaya dan harus segera di tangani. Dengan angka 150/100 mmHg dan bocornya protein di air seni si Ibu, ditambah tungkai, wajah bengkak dan penglihatan yang sudah mulai kabur, ia harus masuk ruang rawat. Preeklamsia berat adalah kondisi yang cukup krusial bagi ibu dan janin, karena jika tidak segera ditangani, ibu akan mengalami kejang dan janin akan mengalami gawat janin. Jalan keluarnya hanya satu: terminasi kehamilan aka bayinya harus dikeluarkan aka operasi SC. Agaknya ibu ini, dan juga ibu-ibu hamil lain di Halmahera Selatan kurang beruntung karena saat itu belum ada dokter spesialis kandungan di rumah sakit ini. Ya jadi bayangkan, artinya si ibu harus mengarungi laut dengan kapal malam (karena pesawat jarang dan biayanya mahal), selama 7-8 jam untuk sampai ke Ternate (Kabupaten yang berbeda) yang rumah sakitnya memiliki pelayanan dokter spesialis yang lebih lengkap.

Melihat usia kehamilan ibu yang masih 36 minggu dan janin dalam kondisi baik, maka saya memutuskan untuk merawat ibu, sambil memasukkan obat pencegah kejang, memonitor semua tanda vital, memeriksa lab, sementara menunggu proses perujukan. Perlu dibold dan digaris bawahi bahwa proses perujukan menjadi hal yang sangat sulit disini karena segala macam administrasi sering kali memakan waktu yang lama. Pasien sering kali belum punya KTP, belum punya Kartu keluarga, belum punya kartu jaminan kesehatan, dan yang lebih penting lagi tidak punya uang.

Merawat pasien preeklamsia berat seperti menunggu bom waktu. Hal yang lebih buruk dapat terjadi kapan pun. Kecemasan saya makin meningkat ketika setiap pagi melakukan visit pasien di bangsal kebidanan, saya masih bertemu dengan pasien ini, seolah masih enggan beranjak pergi. Saat itu sudah hari ke-4 perawatan. Saya kembali memberikan penjelasan dan pengertian kepada suami dan nenek pasien bahwa pasien harus tetap dirujuk beserta alasan dan apa akibatnya jika tidak setuju. Memastikan bahwa keluarga sudah memahami betul apa pesan yang saya sampaikan. Meski demikian saya masih bisa melihat kegelisahan yang terpancar dari wajah suami pasien. Ya seperti yang sudah saya duga, kondisi finansial keluarga kembali menjadi penghalang keluarga ini untuk segera membawa pasien ke Ternate.

Hal ini membuat saya berpikir ulang tentang akar permasalahan ini. Di luar nilai, kepercayaan, keadaan ekonomi dan pendidikan pasien (dan keluarga) yang besar peranannya dalam menentukan keputusan yang berkaitan dengan kesehatan, tidak bisa dipungkiri bahwa sistem kesehatan yang berlaku dimana pasien tinggal juga tidak kalah pentingnya. Contohnya seperti kasus ini. Di daerah saya bekerja, pemerintah daerahnya memiliki jaminan kesehatan ‘gratis’ untuk semua penduduknya. Tidak terkecuali. Kenapa saya beri tanda kutip? Karena gratis disini sifatnya semu. Bebas biaya hanya berlaku untuk pengobatan di layanan primer dan rumah sakit daerah saja. Jadi, jika pasien di rujuk di luar daerah (Halmahera Selatan), misalnya dalam kasus ini ke Ternate, maka biaya berobat (dan penunjang lain, seperti menginap, transportasi) di rumah sakit tujuan menjadi tanggungan pasien dan keluarganya. Agak konyol sebenarnya jaminan kesehatan parsial seperti ini bisa diberlakukan pada daerah yang, pada kenyataannya, masih minim fasilitas dan pelayanan kesehatan, terutama spesialistik, sehingga cukup sering melakukan rujukan.

Mari kita ganti skenarionya. Okelah misalnya pasien dalam kasus ini memutuskan untuk mau pergi dirujuk dengan biaya transportasi dan akomodasi sendiri, misalkan dengan mengutang sana-sini. Lalu, apakah tidak akan ada ‘buntut’ permasalahan baru dari usaha utang-piutang ini? Padahal keluarga disini juga harus membiayai perawatan bayi selanjutnya. Mungkin inilah yang kerap dipikirkan pasien, ketika perlu dirujuk, mereka akan berpikir beribu kali dulu.

Agaknya akan lebih bijak kalau pemerintah daerah tidak lagi membangga-banggakan ‘pelayanan kesehatan gratis’ kalau ‘nanggung’. Bisa dilihat sendiri akibatnya bukan solusi yang diperoleh, tapi ya masalah baru, seperti compliance pengobatan pasien buruk, pasien sulit mendapatkan pengobatan yang komprehensif dan berkelanjutan, dsb.

Begitu juga dengan jaminan kesehatan nasional sekarang yang dikenal dengan BPJS, masih belum menanggung biaya transportasi serta akomodasi bagi pasien dan keluarga. Padahal, bagi masyarakat pedesaan kedua biaya ini sangat membebani.

Dalam hal ini, kita sebagai tenaga kesehatan mungkin sering nyinyir terhadap pasien yang sulit untuk pergi ke rumah sakit rujukan atau mesti berunding satu kampung untuk memutuskannya. Tapi, sudahkah kita berpikir bahwa banyak kondisi yang memaksa mereka bersikap seperti itu?

Dokter di pelayanan primer sudah bekerja sesuai dengan kompetensinya, dokter spesialis yang bekerja di fasilitas level lebih tinggi sudah menguasai keahliannya, keduanya pantang patah arang untuk selalu update dengan ilmu baru melalui seminar dan workshop mahal, tapi mengapa susah sekali ya merujuk pasien?

It is the system that suppose to bridge the gap in between.

Kembali ke cerita awal. Untungnya pada hari ke-5 saya datang ke bangsal kebidanan, saya tidak bertemu lagi dengan si pasien. Alhamdulillah, dia dan keluarganya sudah pergi ke Ternate setelah diskusi yang cukup panjang.

Saya hanya bisa berharap supaya bom waktu itu tidak meledak sebelum terlambat dan hal ini tidak terulang kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s