Arti Kehadiran Pasien

“It has to be stopped!”, seruku dalam hati. Ini sudah cukup, tidak boleh dibiarkan terus-terusan terjadi. Pikiran itu yang senantiasa terlintas tiap perawat atau bidan atau pegawai puskesmas atau rumah sakit ada yang datang dengan, “Dok, minta resep buat si A (biasanya saudaranya)” dan TANPA membawa si pasien.

Mungkin ini akan terdengar berlebihan atau sedikit egois. Tapi percayalah ini hanya kedengarannya saja. Nyatanya, pada akhirnya this is itself for your own good. Saya yakin ini sering dialami sejawat dokter dimana saja di setiap pojok negeri ini: Meminta resep obat tanpa membawa si pasien. Mending kalau dokternya sudah pernah ketemu dengan pasiennya. Ini sama sekali belum! Kenal saja tidak. Ya memang sering si dokter sudah kenal dengan peminta resep ini yang biasanya adalah petugas kesehatan atau sekedar kenalan biasa. Namun, tetap saja masalah besar kalau yang sakit bukanlah mereka sendiri. Inilah saat dimana memiliki status ‘kenalan’ dengan dokter seolah bisa mem-bypass prosedur klinis (bukan administrasi loh) yang berlaku.

Pernah satu waktu saya memiliki pengalaman yang lantas membuat saya dongkolnya minta ampun. Saat sedang di salah satu bangsal rumah sakit, saya sedang menulis status (rekam medis) pasien yang baru saja saya follow-up. Tiba-tiba telepon ruangan berdering dan perawat disitu lebih cekatan dibandingkan saya sehingga telepon ia angkat. Saya masih asyik menulis. Setelah selesai menulis status tersebut, tiba-tiba perawat tadi menyodorkan sebuah kertas berisi catatan kecil sambil berkata,”Dok, ini barusan ada telepon ada pegawai minta resep” tidak lupa membumbui permintaannya dengan senyuman. Di atas kertas telah terbubuh tulisan “Bunga Mawar (nama disamarkan); 11 tahun; batuk, pilek, demam”. “Katanya buat anaknya,Dok”. Saya saat itu cuma bisa tersenyum masam sambil membalas dengan,”Boleh ga ya, kak saya nolak?”.
Coba tebak apa perasaan saya waktu itu.
• Pertama, saya kesal
• Kedua, saya kesal banget
• Ketiga, saya kasihan. Bukan karena sakit yang diderita anak itu.

Perlu saya jelaskan kenapa kesal menjadi perasaan yang wajar ketika menghadapi situasi seperti ini. And I think this is the time to explain ourself as a doctor. Kami, dokter belajar tidak kurang dari lima tahun bukan untuk menjadi mesin pembuat resep. Untuk sampai pada tahap membuat resep obat, perlu rangkaian klinis yang perlu ditempuh oleh dokter. Komponen mutlak dalam proses pengobatan adalah dokter, pasien, dan interaksi diantara keduanya. Yes, patient’s presence is essential. Kenapa? Karena dokter tidak mengobati hal yang diawang-awang yang hanya bisa dia imajinasikan. Dengan kehadiran pasien, apapun keadaannya sadar atau tidak sadar, kooperatif atau tidak kooperatif, dokter dapat mengelaborasikan penemuan subyektif dan obyektif pada pasien.

Pertama, dokter berusaha menangkap persepsi pasien atas penyakitnya melalui proses wawancara atau dalam istilah medis anamnesis, yaitu meliputi keluhan yang ia rasakan selama ini, apa yang menjadi concern pasien atas penyakitnya, apa yang ia harapkan dari penyakitnya, bahkan dengan wawancara yang mendalam dokter bisa menangkap nilai-nilai (values & belief) yang dianut oleh pasien. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dari mulai ujung kepala hingga ujung kaki. Atau jika tidak memungkinkan pemeriksaan fisik hanya ditujukan pada organ-organ yang dicurigai terkait dengan penyakitnya. Bahkan sebenarnya pemeriksaan fisik ini sudah dapat dilakukan semenjak pasien memasuki ruangan dengan cara dokter melihat gaya berjalan, ekspresi, atau warna wajah pasien. Dari dua langkah di atas lalu dokter menganalisis dan mulai menemukan permasalahan klinis (atau bahkan non-klinis) yang ada pada pasien. Jika dibutuhkan dokter selanjutnya akan meminta pemeriksaan penunjang seperti foto ronsen, laboratorium, dll untuk menegakkan dan mengonfirmasi diagnosis. Setelah diagnosis tegak barulah bisa dibuat resep obat yang bisa diberikan ke pasien. Sayangnya, tanggung jawab dokter tidak berhenti sampai disitu. Dokter bertanggung jawab untuk mengedukasi pasien cara menggunakan dan efek samping obat yang ia resepkan. Tujuannya supaya obat tersebut bekerja secara optimal dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang sedang ia jalani tetap baik.

Melihat kompleksnya rangkaian yang harus ditempuh, maka mustahil rasanya kalau dokter bisa mengobati pasien hanya berdasarkan info orang ketiga apalagi kalau infonya cuma berupa catatan kecil yang tidak bisa ditanyakan atau digali lagi. Adapun alasan kami stick to this rule adalah untuk menjaga dignity profesi kami dan yang utama demi kebaikan pasien. Apa jadinya kalau kami memberikan obat yang tidak tepat untuk kondisi pasien? Dokter bisa dibilang ‘malapraktik’ dan disebarkan kelalaian ini menjadi konsumsi media massa. Yang paling utama, dengan memeriksa pasien langsung dan berinteraksi, kami memperlakukan pasien sebagaimana manusia seutuhnya. Manusia bukan seperti mobil atau mesin yang jika rusak tinggal ganti onderdilnya. Kalau itu, via online-shop untuk membeli ‘obat’-nya sah-sah saja. Lebih jauh lagi, dengan proses wawancara dokter bisa menyesuaikan cara pengobatan (bukan hanya obatnya saja) untuk pasien. Karena pasien adalah manusia yang bervariasi dalam hal latar belakang sosial, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Jadi pengobatan pasien yang satu dengan yang lain bisa saja berbeda meski penyakitnya sama. Yang perlu digarisbawahi lagi adalah kami dokter tidak ingin hanya mengobati gejala penyakitnya saja, tapi juga mengatasi penyebab dari penyakitnya. Misalnya pasien demam dan pusing. Kami tidak hanya akan memberikan obat paracetamol lalu selesai. Tentu mesti dicari tahu apa penyebabnya, misalnya, demam berdarah, malaria, infeksi bakteri, atau masih banyak yang lainnya. The treatment will be totally different. Dan apakah hal itu bisa diketahui tanpa bertemu langsung dengan pasien?

Apapun hambatannya, sebelum diberikan obat, pasien sudah harus bertemu dengan dokter. Kalau malas antrian panjang? Ya datang saja ke instalasi gawat darurat kalau memang kondisi pasiennya sudah memburuk. Kalau tidak urgent dan keluarga pasien kenalan dokter? Boleh aja di luar settingan poliklinik tapi mbok ya tetap diajak pasiennya. Pasien sudah tidak kuat berjalan? Tidak ada transportasi? Nah kalau sudah seperti ini dokter bisa mendatangi pasien tapi biasanya keadaan seperti ini tetap membutuhkan pasien untuk dibawa ke rumah sakit karena dokter tidak bisa membawa seabrek peralatan medis yang dibutuhkan dan timnya.

Jadi jelaslah sudah bahwa ketidaksukaan saya pada kebiasaan ini bukan karena ego sebagai dokter. Bukan karena kami mengharap imbalan apapun. Tapi sangat menyakitkan kalau kebiasaan ini bisa membawa kerugian untuk pasien sendiri, yang tidak lain dan tidak bukan adalah alasan satu-satunya kami bersekolah untuk jangka waktu yang lama.
Tidak bisa jauh-jauh berharap pasien bisa mandiri dalam mengurus kesehatannya kalau untuk meminta pertolongan yang terkait kesehatannya saja masih belum bisa. Sudah saatnya masyarakat lebih pandai dalam how to seek for help. Then, it has to be worked in both ways. Satu sisi kebiasaan ini tidak bisa diharapkan berubah dengan sendirinya kalau dokter tidak menolak permintaan resep-tanpa-pasien dengan memberikan pengertian kepada siapapun yang memintanya. Di sisi lain, masyarakat juga mesti sadar akan harmful effect dari kebiasaan ini dan mencoba untuk tidak menge-judge penolakan dokter tersebut sebagai perilaku sombong, egois, tidak kompeten, penelantaran pasien, atau ingin imbalan materi.

Pada akhirnya, perkataan saya kepada perawat sebelumnya hanyalah gertakan semata. Dengan terpaksa saya tetap menuliskan resep obat sirup flu dan vitamin C untuk si pasien anak yang belum pernah saya temui itu. Yang berlanjut dengan penyesalan dan “nih kak, tapi jangan dibiasakan lagi kayak gini ya, kak”. Saya bertekad itu adalah kali terakhir saya akan menuliskan resep tanpa kehadiran pasien.

Advertisements

One comment

  1. karinaamalia · August 25, 2015

    agree, it has to be stopped, hal yang seperti ini bisa memacu ke malpraktek, jika dokter tidak lakukan anamnesis lalu pasien salah dikasih obat, kan bahaya, apalagi kalau di tuntut..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s