Generasi Menunduk dan Hamparan Langit di Atas Mereka

In that sunny morning, I woke up with a neck soreness  and a little headache. Then I jumped out of my bed, slightly staggered, was trying to reach the balcony. Subsequently, as i made it, without anyone else authority I looked up at the sky….

Enormous!

Awalnya saya memejamkan mata, ketika menengadahkan kepala ke atas pelan-pelan, otot leher belakang saya mulai terasa tertarik. Rasa rileks kemudian menjalar dari leher ke kepala dan juga pundak serta punggung bagian atas. Aku pertahankan posisi demikian, sambil membuka mata. Subhanallah, langit beserta awannya pagi itu sangat indah! Jernih layaknya kanvas tak bertepi yang siap dilukis. I can’t believe i should’ve had this view every morning since like…more than 10 years ago! Where have I been all of this time?! I missed a lot!

06b4d0da14862171270e0ebea7b2008a[1]

Sejak saat itu, tiap pagi aku selalu menyempatkan diri pergi ke teras rumah. Menengadahkan kepala semaksimal mungkin dan menyapu pemandangan langit dengan kedua mataku.

Sejak saat itu pula aku selalu berpikir,” jangan-jangan yang merugi kayak gini bukan gue aja”. Coba pikirkan, berapa lama kita dalam sehari sempat menengadahkan kepala ke langit? Berapa kali sehari kita tersenyum karena melihat bentuk gajah, kelinci, mobil, dan wortel pada awan yang menggantung? Bandingkan dengan waktu yang kita habiskan untuk menunduk membaca buku, mengetik pekerjaan di laptop, atau terhanyut di dunia penuh ilusi ala gadget-gadget mutakhir masa kini.

Jawabannya pasti adalah: Tak seberapa

Padahal selain bisa menikmati keindahan ciptaan Tuhan, otot-otot leher juga bisa rileks.

Let me tell you something!

Penelitian dalam dunia kedokteran sudah membuktikan bahwa ada hubungan antara panjangnya teks yang diketik dengan sakit leher. Rasa sakit ini spektrumnya luas, dari mulai pegal-pegal, kaku, hingga nyeri yang hebat. Bahkan bisa disertai juga dengan sakit kepala. Jadi kalau pernah merasakan sakit kepala bagian belakang jangan buru-buru mencari obat atau kopi, apalagi rokok. Coba deh sempatkan waktu ke ruang terbuka, tutup matamu, tengadahkan kepala ke atas. Rasakan sensasinya di leher. Kemudian buka mata, ucapkan pujian tertinggi untuk Sang Penciptanya 🙂

Stretch your arms, look up, and release some air out of your lung!

Stretch your arms, look up, and release some air out of your lung!

Anyway, dunia barat menamakan penyakit ini dengan nama Text-Neck. Because we constantly bend our neck forward to keep texting on our, let’s say, sophisticated electrical device. Disana ternyata keluhan ini juga sudah mewabah as people become more and more addicted to the technology. Coba baca disini http://www.webmd.com/pain-management/news/20141124/text-neck

Tidak ada salahnya mulai mengurangi kebiasaan buruk sehari-hari. Semenit aja deh tiap hari pagi-pagi sempatkan waktu melihat ke atas, abaikan dulu wassap atau line dari si doi. Kalau doi marah yaa cukup tau aja :p  Ga akan segitu ruginya kok.

5f1da956f0df43b8b0d7a07f58bced8e[1]

Jangan keseringan menunduk apalagi tunduk demi teknologi 🙂

Someone said “Clouds are the most egalitarian of nature’s display, because we all have a fantastic view of the sky

And i believe anykind of soreness can’t be cooler than our clouds above.

a731ba11d7ab6d9511ffd5a2829a3b99[1]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s