Perempuan dalam Al-Quran

Entah apa yang tiba-tiba mendorong saya untuk membeli buku ini saat sedang berkeliling di salah satu toko buku dekat kampus. Beberapa hari sebelum menemukan buku ini, saya baru saja selesai membaca buku “Julia’s Jihad” karya Julia Suryakusuma. Isinya adalah kumpulan opini beliau tentang segala fenomena sosial dan politik dalam kaitannya dengan perempuan, dan terkadang Islam, yang dimuat dalam harian The Jakarta Post. I found it very interesting since she is a feminist journalist and she put lots of brilliant critics on Indonesia as “the biggest muslim democracy” state.

Julia's Jihad is miraculously sharp!

Julia’s Jihad is miraculously sharp!

Sinisme dan humor satir terpancar kuat dalam tulisannya, membekaskan kemirisan, dalam diri saya, akan nasib perempuan dalam Islam. Ego saya sebagai seorang perempuan, yang juga warga Indonesia, sekaligus muslimah, nampaknya mencoba untuk mencari pembenaran, atau setidaknya kebenaran atas  prasangka yang terlanjur muncul.

Akhir sampailah buku ini ke tangan saya.

Haven't finished it yet :p

Haven’t finished it yet :p

Hermeneutika feminisme dalam pemikiran Tokoh Islam Kontemporer, tulisan Dr. Irsyadunnas. Sebenarnya buku ini adalah disertasi sang penulis, jadi sangat ilmiah dan menggunakan metode yang sahih.

Alhamdulillah setelah membaca (sebagian besar) BAB dalam buku ini, saya mendapatkan banyak pencerahan. Allah is The Lord of Justice J Dan sampai sekarang saya masih dalam proses membacanya. Tapi keinginan untuk membagi isi buku ini sudah tidak bisa lagi saya tahan.

Hermeneutika adalah salah satu metode tafsir Al-Quran yang memang populer di kalangan Islam kontemporer. Secara etimologi, hermeneutika memiliki 3 makna dasar: to say (mengungkapkan), to explain (menjelaskan), to translate (menerjemahkan). Menarik, karena pendekatan intepretasi ini menyadari bahwa Alquran tidak kaku, tapi kontekstual, dipengaruhi oleh latar belakang penafsir, kondisi sosial, politik, dan budaya. Nah, pemikiran pendukung hermeneutika yang disorot dalam buku ini adalah pemikiran Amina Wadud dan Asghar Ali Engineer. Keduanya adalah tokoh muslim feminis yang kerap mengkritik pemahaman Al-Quran yang diskriminatif terhadap kaum perempuan. Mereka sadar bahwa selama ini Al-Quran ditafsirkan oleh penafsir yang mayoritas laki-laki. Sehingga hermeneutika feminisme mengandung makna sebuah metode penafsiran Al-Quran yang berkaitan dengan persoalan perempuan yang dijiwai dengan gagasan kesetaraan jender.

(oh i’m soo excited while writing this, that i almost lose control of my fingers!)

Ada beberapa masalah konsep hingga praktis sehari-hari yang dibahas disini. Semuanya berkaitan dengan kedudukan perempuan dalam Islam, yaitu diskursus asal-usul penciptaan perempuan, kepemimpinan dalam rumah tangga, poligini, pembagian warisan, dan nilai kesaksian perempuan. For me, the most interesting parts are women creation and poliginy.

4:1

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS an-nisa/4:1)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa awalnya Tuhan menciptakan laki-laki dari sumber yang satu, kemudian baru diciptakan perempuan dari sumber (bagian) dari diri laki-laki. Itulah yang tersirat dari QS An-Nisa’/4:1. Tak ayal, pemahaman ini membawa konsekuensi berupa anggapan bahwa penciptaan perempuan sangat tergantung pada penciptaan laki-laki. Pemikiran yang berkembang di masyarakat adalah “perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki”. Bahkan ada yang mengatakan tulang rusuk itu bengkok, dan kebengkokan itu sifatnya inheren, sulit diperbaiki. Saya pribadi, setelah berpikir ulang juga sempat mengernyitkan dahi. Tulang rusuk bengkok sebagai asal-usul perempuan adalah sebuah konotasi negatif dan saya cukup tersinggung dibuatnya.

Hal ini tidak lepas dari pendapat mufasir klasik. Wadud dan Engineer mengkritik penafsiran mereka karena efek dari penafsiran seperti itu menggiring opini masyarakat akan adanya hegemoni laki-laki terhadap perempuan. Mereka berdua pun menafsirkan ulang ayat tersebut dengan analisi teks terlebih dahulu. Menurut Wadud, kata min, dalam ayat ini, tidak berarti “dari” tapi  menunjukkan arti “sama dengan” (equal). Sehingga dalam pemahamannya tidak lagi makhluk yang diciptakan pertama (Adam atau laki-laki) telah lengkap, sempurna, unggul dan makhluk yang diciptakan kedua (Hawa atau perempuan) tidak setara dengannya karena diciptakan dari bagiannya. Akan tetapi min dipahami sebagai “sama dengan jenisnya” untuk penciptaan keduanya. Begitu pula penafsiran Engineer yang mengatakan bahwa min dalam ayat ini artinya out of living entity (keluar/tercipta dari satu entitas kehidupan).

Sedangkan kata nafs dalam ayat ini, dimaknai Adam atau laki-laki oleh para mufasir klasik. Hal ini dibantah oleh Wadud yang menjelaskan bahwa nafs mengandung makna yang netral, tidak mengacu pada jenis kelamin. Dia menegaskan bahwa dalam Al-Quran tentang penciptaan, Tuhan tidak pernah merencanakan untuk memulai penciptaan-Nya berdasarkan jenis kelamin. Al-Quran juga tidak pernah menjelaskan  bahwa asal-usul umat manusia adalah Adam. Bahkan nama Hawa sendiri bukanlah dari Al-Quran, tapi bersumber dari  riwayat-riwayat Israiliyat (salah satunya Injil Kitab Kejadian 3:20). Asal-usul manusia memang sangat sulit untuk diketahui karena dalam Al-Quran, ini bukanlah persoalan empiris-sosiologis tapi metafisis. Karena tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana Allah menciptakan manusia pertama kalinya, selain dari kitab suci. Sayangnya, dalam kitab suci tidak ada penjelasan yang final, semuanya hanya sebatas dugaan yang dilakukan oleh mufasir klasik maupun modern dengan metodenya masing-masing. Sementara itu Engineer menafsirkan nafs dengan “jiwa” makhluk hidup. Artinya Allah telah menciptakan manusia terdiri dari dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan, bersumber dari jiwa yang sama. Hal ini sejalan dengan ungkapan “Allah menciptakan pasangannya dari jenisnya sendiri”.

Sedangkan kata zawj dalam ayat ini ditafsirkan oleh mufasir klasik sebagai Hawa atau perempuan. Dalam pandangan Wadud, zawj memiliki makna yang secara umum digunakan untuk menunjukkan jodoh, pasangan, istri, atau kelompok. Memang secara gramatikal zawj adalah bentuk maskulin. Tapi secara konseptual kata ini tidak bermakna feminim atau maskulin. Karena tidak ada satu ayat pun yang menunjukkan bahwa zawj disini adalah istri. Sehingga Wadud menegaskan bahwa zawj dalam konteks ini jenisnya sama dengan nafs pertama dan zawj kaitannya dengan nafs tersebut. Menurutnya, kata ini menyiratkan bahwa semua yang diciptakan di dunia ini berpasang-pasangan untuk saling melengkapi. Layaknya siang-malam, langit-bumi, susah-senang. Semua pasangan itu memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Oleh karena itulah Wadud mengatakan bahwa asal usul umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan, berasal dari nafs tunggal yang merupakan bagian dari sistem berpasang-pasangan (nafs itu sendiri dan zawj-nya).

Dapat disimpulkan bahwa baik Wadud dan Engineer sepakat bahwa perempuan diciptakan dari sumber yang sama dengan laki-laki.

Melihat kedua pendapat mufasir feminis tersebut, saya sangat terpesona dengan buah pemikiran mereka. Bahwa apa yang selama ini saya ketahui tentang penciptaan perempuan, sifatnya keliru. Penafsiran mereka membuka pemikiran saya bahwa Al-Quran sama sekali tidak menempatkan perempuan lebih rendah dari laki-laki, bahkan dari mulai penciptaan awal kami, kaum perempuan.

Selanjutnya saya akan menggelitik lewat isu poligini, atau bahasa populernya poligami.

4:3

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS An-Nisa/4:3)

Dan ternyata penafsiran dari ayat tersebut tidaklah sederhana. Pertama-tama harus dipahami terlebih dahulu kondisi sosial masyarakat Arab saat ayat ini diturunkan. Saat itu, laki-laki atau suami berada setingkat lebih tinggi di atas perempuan. Kaum perempuan memiliki ketergantungan yang luar biasa terhadap laki-laki, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan material. Selain itu, orang Arab Quraisy memiliki kebiasaan mempunyai istri yang banyak, namun tidak mampu menafkahi mereka. Sehingga ketika mereka menjadi wali anak yatim, mereka menggunakan harta anak yatim tersebut untuk memenuhi kebutuhan nafkah istri-istri mereka.

Realita yang terjadi pada perempuan yatim saat itu sangat menyedihkan karena para wali mereka kebanyakan mengambil harta mereka secara sewenang-wenang. Timbul ketakutan pada diri mereka akan dosa tidak dapat berlaku adil terhadap hak-hak anak yatim. Ada diantara mereka yang sudah memiliki 10 istri. Karena itulah dikatakan kepada mereka, jika takut tidak dapat berlaku adil terhadap hak-hak anak yatim, maka seharusnya juga takut tidak berlaku adil terhadap istri-istrinya.

Oleh karena itu, turunlah Al-Quran yang memberikan suatu solusi. Namun perlu ditekankan bahwa solusi ini sifatnya bertahap, yaitu dengan mengurangi jumlah istri seminimal mungkin. Jumlah yang disebutkan antara satu sampai empat. Karena disadari bahwa akan sangat sulit bagi kaum laki-laki saat itu untuk langsung hanya memiliki satu istri. Bagaimana pun, tujuan akhir dari kebijakan ini adalah memiliki istri tidak lebih dari satu. Sebenarnya makna yang dikandung dalam ayat ini adalah prinsip keadilan yang merupakan nilai moralitas yang diakui secara universal.

Wadud, sebagai pemikir Islam kontemporer, melihat permasalahan ini dari tiga aspek. Pertama adalah persoalan anak perempuan yatim. Menikahi anak yatim tersebut adalah sebagai upaya untuk mencegah penyalahgunaan harta anak yatim oleh para wali yang tidak adil. Pembatasan sampai empat orang tidak lepas dari kewajiban untuk bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Jadi dalam konteks ini, menikahi anak yatim adalah salah satu solusi untuk mencegah penyalahgunaan harta anak yatim oleh wali laki-lakinya. Hal ini menegaskan bahwa kebolehan poligini ini tidak berlaku secara umum dalam segala keadaan. Kedua, persoalan keadilan. Ayat ini secara eksplisit memerintahkan untuk berlaku adil. Dan keadilan terhadap istri-istri mereka bukan hanya dalam hal finansial saja, seperti yang sering diungkapkan oleh para pendukung poligini. Tapi juga mencakup keadilan kasih sayang, waktu, spiritual, moral, dan intelektual.

Terakhir,tidak ada dukungan langsung dari Al-Quran tentang pembolehan pernikahan poligini. Apalagi dengan alasan yang dikemukakan beberapa mufasir klasik yang menyebutkan adanya tiga dasar yang membolehkan laki-laki berpoligini. Pertama adalah alasan finansial yang dimana menurut mereka perempuan tidak bisa berpenghasilan sehingga sangat tergantung pada laki-laki. Alhasil laki-laki dibolehkan beristri lebih dari satu. Menurut Wadud, hal ini mengimplikasikan perempuan adalah beban finansial bagi laki-laki, mereka hanya bisa bereproduksi tapi tidak produktif. Kedua, kemandulan yang dialami seorang istri menjadi alasan yang membolehkan laki-laki menikahi perempuan lain. Menurut Wadud hal ini sangat tidak pantas dan tidak adil untuk dijadikan alasan. Karena jika pihak suami yang mandul, perempuan tersebut tidak diperbolehkan menikahi laki-laki lain. Padahal saat sekarang ini masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk memiliki keturunan. Baik dengan menggunakan teknologi maupun mengadopsi anak-anak yatim-piatu miskin yang membutuhkan orang tua. Terakhir, yang menurut saya sangat memalukan adalah alasan pemenuhan seksual. Menurut para pendukung poligini, pemenuhan seks bagi laki-laki adalah penting demi terjaganya keutuhan rumah tangga. Sehingga mereka diperbolehkan memiliki istri lebih dari satu. Alasan ini tidak bisa diterima karena menunjukkan betapa lemahnya iman mereka. Padahal dalam Al-Quran disebutkan untuk senantiasa mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan ketaatan kepada Allah. Anjuran ini berlaku untuk pihak suami maupun istri.

And you will never be able to be equal [in feeling] between wives, even if you should strive [to do so]. So do not incline completely [toward one] and leave another hanging. And if you amend [your affairs] and fear Allah – then indeed, Allah is ever Forgiving and Merciful.“- QS. An-Nisa/4: 129

Satu poin menarik bagi saya disini adalah bahwa ternyata dalam QS An-Nisa/4: 129 diungkapkan sesungguhnya seorang laki-laki atau suami tidak akan pernah bisa untuk berlaku adil terhadap istri-istrinya. Sehingga seseorang tidak akan pernah diwajibkan untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin ia kerjakan, oleh karena itulah laki-laki dianjurkan untuk memiliki satu istri saja. Menurut Engineer, poligini hanya diizinkan untuk kondisi-kondisi tertentu saja. Dalam kondisi normal, Al-Quran menekankan pada pernikahan monogami. Persyaratan untuk melakukan poligini pun sangat ketat, terdiri dari 3 tingkatan, yaitu ada jaminan penggunaan harta anak yatim dan janda secara benar, ada jaminan keadilan bagi semua istrinya, dan jaminan istrinya mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sama.

Maka, terang lah sudah bahwa pemahaman ayat ini membutuhkan dialektika yang tidak sederhana. Semuanya harus dipadankan dengan konteks yang ada dalam masyarakat. Alangkah baiknya ayat ini tidak dijadikan alat pembenaran semata bagi laki-laki atau suami yang melakukan ketidak-adilan terhadap istrinya. Hendaknya masyarakat juga memaknai ayat ini dengan bijaksana. Semua orang harus percaya bahwa terdapat nilai-nilai universal dalam Al-Quran. Dalam isu ini adalah keadilan. Semangat untuk menjunjung tinggi nilai keadilan ini berlaku untuk semua ayat yang ada dalam Al-Quran. Sehingga, jika kiranya ada ayat yang dirasa kontradiktif dengan semangat itu, maka harus dikaji lebih lanjut karena bisa saja sifatnya kondisional.

So, apakah tindakan para tokoh masyarakat dan agama yang kita ketahui melakukan praktik poligini dapat dibenarkan? You judge 😉

Jujur, senyum saya merekah bahagia setelah membaca potongan buku ini. Juga bersyukur karena perkembangan metode penafsiran Al-Quran, dalam hal ini hermeneutika feminisme, mampu menyibak tabir kebenaran tentang kedudukan perempuan dalam Islam. I am proud to be a woman as well as moslem 😉

source: Irsyadunnas. Hermeneutika feminisme dalam pemikiran tokoh Islam kontemporer. 2014. Yogyakarta: Kaukaba Dipantara.

Advertisements

One comment

  1. Aden · December 27, 2014

    Bella, tulisannya bagus 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s