Lembata Day #1

“OMG, I am all alone!”

That’s the first words crossed my mind when i landed on this island.

Yah, sebenarnya untuk 1 hari pertama ini saya masih ditemani oleh Om Immanuel, seorang asisten lapangan dr. Trevino (dokter ilmu kesehatan komunitas), dokter yang memberikan saya magang ini. Tapi kemudian, esok hari, dan seminggu ke depan, saya mesti berjibaku sendiri, bekerja bersama dengan teman-teman enumerator lokal disini.

IMG_20141110_091457

I feel afraid yet challenged! Ini pertama kalinya bagi saya menjadi koordinator tim survey yang isinya adalah orang-orang lokal Lembata. Dan saya dilepas sendirian di pulau yang terkenal dengan daging ikan pausnya ini. Masih berlokasi di Nusa Tenggara Timur, pulau Lembata memiliki nuansa panas dan kering. Hampir semua pohon di sini meranggas, menunggu datangnya musim hujan. Hutan2 dibakar oleh penduduk, untuk membuka ladang baru. Pertama saya menjejakkan kaki di pulau ini, saya kaget dengan fenomena ini di bandara.

we should pull the bags one by one :p

we should pull the bags one by one :p

Baggage belt nya manual!

However, kemegahan Gunung Ile Ape yang bisa dipandang dari pantai, membuat saya optimis, saya tidak akan bosan berada di pulau ini.

Gunung Ile Ape yang masih aktif. Nampak dari belakang rumah pak kades.

Gunung Ile Ape yang masih aktif. Nampak dari belakang rumah pak kades.

Setelah menaruh barang2 di hotel (anw, hotel disini artinya hostel ya :p), saya dan om im langsung naik motor ke desa Lerihinga, untuk menyusul tim yang sudah mulai bekerja. Oia, tim saya terdiri dari 10 enumerator yang hebat-hebat dan bersahabat. Enumerator adalah semacam pewawancara responden. Sesampainya di posyandu saya mewawancarai beberapa anak SD dan kemudian mengawasi jalannya wawancara yang dilakukan oleh enumerator. Akhirnya kami hanya mendapat 14 responden, masih jauh dari target. Tapi tak apa, we’ve done our best.

IMG_20141110_104335

Suasana proses wawancara orang tua dari anak PAUD

Suasana proses wawancara orang tua dari anak PAUD

Bersama anak kelas 1-2 SD, setelah FGD. Mereka pandai tapi pemalu :')

Bersama anak kelas 1-2 SD, setelah FGD. Mereka pandai tapi pemalu :’)

Makan siang kami dijamu oleh bapak kepala desa di rumahnya. Makanannya serba ikan! Tapi ada satu masakan ikan enak yang dibuat sebagai asam-asam. Ketika saya tanya nama masakannya apa, mereka bahkan tidak tahu  +_+ uniknya mereka juga masak ketupat lho! Saya kira tidak ada ketupat di NTT. Setelah kenyang, saya kembali ke posyandu untuk membuat Focus Group Discussion (FGD) dengan aparat Desa. Berhubung penelitian saya ini sifatnya kualitatif, maka saya perlu mendapatkan insight dari semua pihak dengan metode diskusi ini. Mengasyikkan, lagi-lagi karena saya tidak pernah membuat penelitian kualitatif dan ini menyenangkan karena saya bisa mendengarkan secara langsung pendapat tiap pihak dalam satu forum. Ada bapak kades, ibu desa sebagai ketua PKK, staf BPD, tokoh masyarakat, Bunda PAUD, guru SD, dan para kader-kader. FGD berlangsung selama 50 menit dan setelah itu saya kembali di hotel. Sempat kecewa karena belum sempat ke Bukit Cinta (haha) sore ini karena sebagian kota mati lampu. Mungkin besok 🙂

Proyek survey yang saya kerjakan berkisar tentang pendidikan anak usia dini (PAUD). Yang mungkin terkesan tidak ada sangkut pautnya dengan dunia medis, tapi kalau kita mampu berpikir holistik hal ini sangat berkaitan dengan tumbuh kembang anak 🙂

Sangat terasa sekali ketika bekerja dilapangan, kemampuan manajerial dan komunikasi dibutuhkan juga oleh seorang dokter. Leadership dan decision making bukan hanya dibutuhkan dalam menangani pasien, tapi juga tim dan masyarakat. Bayangkan saya disini mesti ‘memimpin’ warga lokal yang usianya kebanyakan lebih tua dari saya. Ada yang sudah hamil anak ke-4 dan bahkan ada yang sudah menjadi Kakek J Kesulitannya adalah bagaimana saya menempatkan diri saya disini, supaya tetap bisa bekerja sama dengan mereka tanpa terkesan ‘mengetuai’. Meski sudah berumur, mereka hebat-hebat dan tidak kalah semangatnya dengan mereka yang muda!

Overall, hari ini berjalan dengan baik. Semoga besok –besok lebih asik lagi karena berdasarkan jadwal yang saya punya saya dan tim hari kamis harus ke suatu desa jauuh (4 jam perjalanan) dan bermalam di desa tersebut selama beberapa malam.

Well, this is truly my expected experience! I love travelling a lot! Produktif dan bertemu dengan hal-hal baru di pelosok indonesia (y)

Ps: i think i don’t give a sh*t about my tanned skin anymore :p

Para penggerak masyarakat Lerihinga :)

Para penggerak masyarakat Lerihinga 🙂

Advertisements

2 comments

  1. yulianawinnyps · December 21, 2014

    Halo 🙂

    Saya Winny, mahasiswa Psikologi dari Universitas Padjadjaran. Beberapa hari ini saya membaca tulisan di blog ini dan merasa sangat terinspirasi, terutama dengan catatan perjalanan ke daerah-daerah di Indonesia. Sangat terkejut dengan kondisi sosial budaya-yang berhubungan dengan kesehatan-di daerah-daerah di Indonesia.

    Mau berbagi sedikit, pada bulan Juni-Juli lalu saya mengikuti program Kuliah Kerja Nyata di Indramayu. Di sana, kondisinya pun tidak jauh beda. Puskesmas yang menaungi sekitar 10 desa terletak jauh dari Desa Kasmaran, dan tidak ada akses tranportasi umum ke sana. Tidak ada dokter, pelayanan kesehatan diberikan oleh bidan. Obat-obatan pun tidak lengkap. Pasien darah tinggi sampai hanya bisa diberikan parasetamol dan antibiotik. Mahasiswa kedokteran dari kami pun mengadakan penyuluhan mengenai pencegahan darah tinggi, namun kesulitannya juga pada bahasa Jawa-Sunda Pantura yang sangat berbeda dengan bahasa Sunda.

    Untuk kesadaran untuk hidup sehat pun memperihatinkan. Kami untuk sementara berhipotesis bahwa hal ini disebabkan oleh kurangnya sosok orang tua di samping anak, karena fenomena yang terjadi adalah banyak orang tua yang bekerja di luar negeri sebagai TKI dan meninggalkan anaknya kepada saudara jauh atau tetangga. Yang kami observasi untuk perilaku sesederhana mencuci tangan sebelum makan, mandi, dan sikat gigi saja sudah keluar dari kebiasaan anak-anak ini.

    Sangat menyayangkan, bahkan kondisi di desa yang dekat dengan jalur mudik Pantai Utara pun masih kurang sentuhan dari pemerintah setempat. Ditambah lagi, saya baru mengetahui kondisi kesehatan di luar pulau Jawa.

    Terima kasih atas inspirasinya, saya sangat menunggu tulisan-tulisan selanjutnya. Suatu saat ingin berdiskusi mengenai hal yang sama 🙂

    • belabelle · December 22, 2014

      Hi winny!
      Wah saya seneng bgt ada jg yg punya keminatan yg sama 🙂 makasih juga sharingnya, win. Memang kalau dipikir2 indonesia itu luas, indah, sekaligus memprihatinkan krn segala hal belum merata. Tp pasti banyak hal yg bisa kita lakukan, salah satunya menulis ini, biar banyak org tau.
      Boleh bgt kalau mau diskusi. Ditunggu ya sharing selanjutnya :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s