Hello (again) Timor!

It has been like a decade since my last writing on my blog! I experienced numerous great journeys in the last 2 months. But, i couldn’t find a way to spare my time telling you all of the stories. There was always something prevent me to start it.

Let me begin with Timor…Oh, damn I even haven’t told you about my first visit there.

Okay, not a big deal. I’ll tell you anyway, because this is one of the kind which was able to open my mind, enlighten my insight about nature, people, and how they both intercorrelated each other to affect the state of well-being as human. Moreover, i got ideas about my future role, as a doctor, to overcome this nation’s problem. (sounds cool, huh? :p)

I’ll do (most of) the rest in Bahasa, due to my own convenient and to emphasize the meaning of certain words which can not be replaced by English 🙂

I was on top of the hill. They said, we might had a vision of Australia Continent from the hill (if there was no fog!)

I was on top of the Babia hill. They said, we might had a vision of Australia Continent from the hill (if there was no clouds!)

Kunjungan ke-2 saya ke Timor ini adalah dalam rangka tugas magang saya di International Relation Office (IRO) FKUI. Saya ditugaskan menjadi Liason Officer (LO) 12 mahasiswa kedokteran Erasmus (Belanda) yang sedang menjalani modul Minor Global Health di Indonesia. Kenapa Indonesia? Tidak perlu ditanya lagi, negara kita terkenal akan penyakit tropisnya (TB, dengue, malaria, dll) dan penyakit ‘western’ yang mulai bermunculan. Sehingga saat ini Indonesia sedang dilanda double burden disease. Selain itu, kondisi geografis negara kita yang terdiri dari banyak pulau dan budaya yang beragam, menimbulkan penanganan penyakit di Indonesia juga tidak sesederhana negara-negara di eropa sana. Itulah yang banyak membuat para peneliti dan pelajar dari luar indonesia tertarik untuk memperdalam ilmu kesehatan global di sini.

Di Timor, mereka belajar tentang kesehatan komunitas, terutama komunitas rural. Mereka dituntut untuk menganalisis determinan-determinan kesehatan pada masyarakat pedesaan. Mulai dari kebiasaan (behavior), genetik, lingkungan (environment), hingga pelayanan kesehatan di sana (healthcare). Jika saya pergi bersama dengan teman-teman yang juga orang Indonesia, mungkin pengalaman saya tidak akan semenarik ini. Bisa dibayangkan pergi ke desa terpencil (Desa Anin, 5-6 jam dari kota Kupang) bersama orang-orang bule yang terbiasa hidup di kota dengan fasilitas serba ada. Unik sekaligus menantang!

Get used to modest lifestyle! Yup, ini yang saya dan teman-teman belanda alami selama hampir 2 minggu di desa. Saat itu di timor sedang musim kering. Tidak seperti di Jakarta yang mesti musim kemarau masih ada air yang keluar dari keran. Di Timor, musim kering artinya harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Artinya, kami harus sangat sangat menghemat air. Jika tidak mampu membeli air, maka silahkan jalan berkilo-kilo meter ke sungai yang hampir kering untuk mengambil air. Alhasil, kami hanya mandi sekali sehari dan mencuci baju satu ember untuk beramai-ramai. Serunya lagi, bagi teman-teman dari Belanda, ini adalah pengalaman pertama mereka mencuci baju dengan tangan. Biasanya mereka mencuci dengan mesin cuci :p Belum lagi minimnya kendaraan dan infrastruktur disana membuat kami harus berjalan kami kemana-mana, termasuk ke pasar. Namun, kami sulit mengeluh karena meskipun matahari terik menyengat, udaranya tetap bersih dan segar bebas polusi.

students with some of scootermen and locals. We bathed under the orange light of sunset!

students with some of scootermen and locals. We bathed under the orange light of sunset!

Kesederhanaan yang kami jalani memang sangat menyenangkan, kami semakin dekat dengan alam dan berinteraksi satu sama lain. Tidak lain dan tidak bukan karena tidak ada hiburan televisi, buruknya sinyal internet, dan listrik yang setiap hari pasti mati. Terkadang, jika ada listrik malam hari, kami menonton film dari laptop bersama-sama. Siang sampai sore harinya main bola, main bulu tangkis atau sekedar bercengkrama. Beberapa dari mereka suka mengisi waktu dengan menulis buku harian. Yup, literally buku harian karena bentuknya buku kecil yang senantiasa mereka tulis setiap hari! Waktu tidur, kita habiskan di atas kasur sempit dengan bantal yang keras. But it was nice because we shared our bed so we felt warmer than being alone. Karena pada malam hari udara sangat dingin sekali, berbeda jauh dengan siang harinya.

Fenomena menarik lainnya adalah language barrier. Bukan hanya karena mereka berbahasa inggris dan kita bahasa Indonesia. Masalahnya masih sedikit orang-orang timor yang bisa bahasa Indonesia. Dan bahasa Timor itu BEDA BANGET sama bahasa indonesia. Selain itu, mereka punya banyak jenis bahasa timor. Jadi antara satu desa dengan yang lainnya, bahasa lokal yang mereka gunakan sangat berbeda! Akibatnya, untuk berkomunikasi membutuhkan setidaknya 2 translator. Satu orang dari bahasa inggris ke bahasa indonesia, dan satu orang lagi dari bahasa Indonesia ke bahasa timor. Ini sangat dibutuhkan terutama ketika berkomunikasi dengan golongan orang tua disana. Karena mereka tidak mendapatkan pendidikan tentang bahasa indonesia sebelumnya. Jadi bisa dibayangkan betapa sulitnya untuk menganamnesis (wawancara untuk keperluan medis/pengobatan) jika dokternya adalah orang-orang Belanda itu. Terutama ketika memberikan edukasi tentang kesehatan, sangat rawan terjadi bias informasi karena mungkin saja pemahaman yang disampaikan beda ketika sudah ditranslate. Lalu bagaimana solusinya? Saya percaya pendidikan sejak dini adalah kunci utamanya. Bukan hanya tentang bahasa saja, tapi juga pola pikir terutama tentang kesehatan.

Beda bahasa, tapi sama kegemaran. Football indeed unites us!

Beda bahasa, tapi sama kegemaran. Football indeed unites us!

Laundry time! :)

Laundry time! 🙂

Ngomong-ngomong tentang pola pikir, saya tertarik untuk menghubungkan dengan slogan “Revolusi Mental” yang digadang-gadang oleh presiden baru kita. Saya semakin yakin kalau revolusi ini harus sesegera mungkin dilaksanakan oleh seluruh individu di tanah air ini. Karena saya menyaksikan sendiri betapa kesesatan berpikir menjangkiti bukan hanya masyarakat awam, tapi juga petugas-petugas kesehatannya. Kesesatan berpikir yang saya high-light disini terutama tentang paradigma sehat. Mereka masih belum aware tentang penyakit atau potensi penyakit yang dapat mereka derita. Misalnya, seperti yang kita tahu malaria adalah penyakit endemis di NTT, termasuk Timor. Sebagian besar masyarakat sebenarnya sudah tahu akan hal itu, tapi mereka hanya memakai kelambu saat musim hujan saja karena merasa lebih dingin saat musim hujan. Padahal kelambu tidak bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Pradigma sehat yang mereka miliki juga tidak lepas dari pengaruh pola pikir mereka yang tidak visioner. Tidak jarang mereka hanya berpikir untuk jangka pendek saja. Bagi mereka urusan hari ini untuk hari ini, masalah besok akan diatasi esok hari. Saya sangat sedih mendengar complain seorang diver asal Belanda yang bekerja untuk sebuah penginapan di Pulau Rote, yang mengatakan bahwa orang-orang lokal disana malas-malas. Mereka hanya memikirkan urusan perut saja, tidak mau bercita-cita tinggi. Sesungguhnya saya ingin marah ketika mendengar itu, tapi sedikit banyak apa yang ia katakan ada benarnya. Mungkin bukan malas, tapi memang sejak kecil mereka didik tidak untuk berpikir jangka panjang. Dan ini juga terjadi di pihak puskesmas yang notabene terdiri dari orang-orang yang seharusnya lebih terdidik. Ini saya alami ketika harus berkoordinasi dengan mereka dalam rangka melakukan penelitian. Ada saja hambatan yang muncul, misalnya pada hari yang dijanjikan pasien tidak ada yang datang, mikroskop tidak bisa dipakai karena laboran tidak datang, dan lain sebagainya. Karakteristik masyarakat yang mudah mengangguk ketika diberi nasihat (“Asal dokter senang”)  juga jadi hambatan. Bayangkan dari belasan ibu-ibu hamil yang kami minta untuk membawa fesesnya guna diteliti, hanya satu yang akhirnya membawa. Ini sangat berbahaya bagi compliance pasien terhadap pengobatan atau pencegahan penyakit. Mungkin ini adalah budaya mereka yang suka menyenangkan orang asing atau orang yang mereka hormati.

Tentu saya tidak bermaksud menyalahkan budaya suatu komunitas. With all of my respect, saya sadar penuh bahwa budaya adalah warisan nenek moyang yang terjadi turun menurun. Tapi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, muncul lah kebutuhan untuk mengubah pola pikir demi kualitas hidup yang lebih baik. Dalam hal ini kesehatan. Jadilah kesehatan tidak bisa lepas dari pengaruh budaya. Jadi, apa yang bisa kita lakukan?

Sudah ada yang pernah belajar tentang kompetensi budaya? 🙂

Masalah di atas semestinya bisa diatasi jika penyedia jasa kesehatan, terutama dokter beserta timnya dapat berkomunikasi dengan baik dengan pasien-pasien. Mereka yang telah lama terpapar dengan masyarakat setempat semestinya memiliki strategi untuk meningkatkan taraf kesehatan. Timor tidak sama dengan Jakarta, Bogor, ataupun Medan. Usaha kesehatan masyarakat tidak hanya bisa dilakukan dari bangunan yang disebut dengan puskesmas saja. Posyandu perlu direvitalisasi, kader perlu dimotivasi, dan kalau perlu datang dari rumah ke rumah warga. Well, bicara memang mudah. Kenyataan yang saya temui di lapangan, setelah saya menghampiri satu per satu rumah-rumah ibu hamil di desa Oinlasi untuk mengundang mengikuti penyuluhan kesehatan, tidak sampai 50% dari mereka benar-benar datang memenuhi undangan. Apa sebabnya? Asumsi saya, ini tidak jauh dari faktor infrastruktur (jalanan super rusak, jarak jauh, tidak ada transportasi) dan kesadaran yang kurang. “Mengapa saya harus datang ke puskesmas jauh2 hanya untuk mendengarkan orang asing bicara tentang anemia, padahal saya harus ke ladang untuk memenuhi kebutuhan perut saya?” kira-kira mungkin itu yang mereka pikirkan, meskipun saat saya datang ke rumah mereka, sambutan yang saya terima sangat hangat dan mereka tampak antusias.

"Penyuluhan". We believe that anaemia in pregnant women is highly preventable!

“Penyuluhan”. We believe that anaemia in pregnant women is highly preventable!

With Puskesmas personnels.

With Puskesmas personnels.

Kembali ke peranan dokter dan puskesmas. Di sana saya sangat merasakan pentingnya peran health worker (terutama dokter) memiliki kemampuan leadership, managerial, dan inovasi yang baik! Bayangkan, hanya ada 1 (ya SATU) orang dokter PTT yang bekerja di puskesmas Oinlasi yang notabene melingkupi 13 desa di kecamatan amanatun selatan! Dia harus bekerja minimal 5 hari kerja setiap hari menangani berbagai masalah kesehatan yang ada pada manusia (dewasa, anak, ibu hamil, kegawat daruratan, dll) dan juga komunitas. Nah permasalahan komunitas ini yang nampaknya dilupakan. Usaha promotif, preventif semestinya bisa berperan besar jika suatu wilayah hanya sedikit tenaga kesehatan yang bekerja. Memang bukan tugas yang ringan, tapi dengan adanya kerjasama yang baik dengan pemerintah, leadership yang terasah, dan kreativitas yang mumpuni, dokter bisa berhasil.

Fakta yang saya lihat di lapangan, Puskesmas terkesan hanya menjalankan program yang sudah ada, tidak berani menginisasi program-program (yang memang dibutuhkan masyarakat) baru, dengan alasan finansial. Laporan tahunan hanya berakhir di gudang. Entah dilakukan evaluasi atau tidak. Catatan-catatan pendokumentasian tentang gambaran kesehatan setempat juga terkesan hanya ‘asal dikerjakan’, tidak tertulis dengan rapi. Sering kami temukan keanehan dalam pencatatan, dan ketika dikonfirmasi pihak puskesmas tidak bisa memberikan penjelasan yang memuaskan. Padahal setiap tahun, pihak FKUI selalu ‘mampir’ ke puskesmas itu untuk melakukan penelitian kemudian diakhiri dengan evaluasi. Namun, setelah 4 tahun bekerja sama, nampak tidak ada perubahan yang bermakna. Inilah yang saya sayangkan, kesesatan berpikir berakibat stagnansi.

Bicara tentang puskesmas, saya juga cukup terkejut dengan betapa jauhnya perbedaan antara puskesmas kota dan desa. Jika saya menjadi pasien di puskesmas Oinlasi, yang baru datang dari kota, saya akan merasa sedih. Bayangkan, jika saya mengalami demam dan ingin (bukan hanya ingin, tapi memang perlu) diperiksa darahnya di laboratorium, maka saya harus menelan kekecewaan. Karena, puskesmas tersebut tidak bisa memeriksakan darah perifer lengkap (DPL; leukosit, trombosit, diff count). Di sekolah memang saya diajarkan untuk tidak tergantung pada hasil lab, karena sifatnya hanya menunjang. Tapi untuk beberapa diagnosis tidak hanya dapat ditegakkan dari manifestasi klinis saja, tapi juga butuh hasil lab. Lalu bagaimana dengan rontgen/x-ray? Dokter akan merujuk saya ke Rumah sakit daerah Soe yang jaraknya 2-3 jam dari desa (kalau ada kendaraan, dan mampu bayar). Begitu juga jika saya punya DM dan mau periksa gula darah saya tidak bisa melakukannya di puskesmas. Bahkan untuk sebatas gula darah sewaktu yang alatnya serta pemeriksaannya sangat praktis. Jika memang sangat butuh, kepala puskesmasnya akan mengeluarkan alat periksa gula darah milikinya pribadi dan menarik uang Rp 20.000 untuk tiap stripnya. Hmmm, fakta yang saya dapatkan ada beberapa warga desa yang penghasilannya hanya Rp 100.000/ bulan. Masak iya mereka mau menghabiskan 1/5 penghasilannya ‘hanya’ untuk satu strip alat periksa gula darah? Bukan hanya itu, obat DM yang bisa mereka berikan hanya Glibenklamid (bukan first line obat DM), jika butuh yang lain? Silahkan minta rujukan untuk menempuh 2-3 jam. Mirisnya lagi, puskesmas yang mestinya menjadi percontohan rumah sehat bagi warga, tidak memiliki fasilitas toilet/kamar kecil/WC. Boleh merengut, tapi saya sudah dongkol duluan ketika tahu fakta ini sejak hari pertama. Belum lagi tidak ada tempat sampah untuk umum, jika mau membuang sampah, langsung ke kebun di belakang puskesmas, karena mereka akan membakarnya. Sampah medis dan non medis akan digabung. Kalau ingin cuci tangan, silahkan gunakan tippy-tap yang hampir kering dan jarang dibersihkan :”)

Mungkin kata-kata saya lebih banyak mengisyaratkan keluh kesah terhadap kondisi yang serba terbatas. Tapi percayalah, saya masih optimis bahwa ini semua bisa dirubah jika ada niat. Bukan hanya dari pihak luar, tapi terutama dari pihak internal (petugas kesehatan, masyarakat setempat) yang mendambakan kehidupan yang lebih baik. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah mereka membutuhkan perubahan? Ataukah mereka sudah merasa cukup dengan kualitas hidup yang seperti itu-itu saja? Memang saya disini tidak memaparkan data kesehatan secara kuantitatif, tapi secara kualitatif sudah bisa dikatakan bahwa taraf kesehatan mereka masih belum baik. Jika memang mereka masih merasa cukup dengan keadaan seperti ini, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk jadi orang yang maju. Disinilah peran Revolusi Mental bekerja. Ketika semua individu memiliki kesadaran untuk mengubah pola pikirnya untuk semakin maju, maka kita akan keluar dari lingkaran kerentanan kebodohan. Masyarakat tidak akan mudah sakit-sakitan, jurang kemiskinan juga akan semakin menjauh, dengan begitu kualitas kehidupan mereka akan lebih baik. Patients empowerment should be started and developed in our mind. Alhasil, dokter tidak akan bekerja sendirian untuk membangun bangsa yang sehat 🙂

Senyum manis :)

Senyum manis 🙂

Oh ya, cerita ini baru terjadi di sebuah desa kecil di Pulau Timor loh, belum lagi ribuan pulau lainnya di Indonesia. Ternyata pekerjaan rumah kita banyak :”)

breathtaker landscape of the village :)

breathtaker landscape of the village 🙂

Advertisements

One comment

  1. Ovan · October 28, 2014

    Bela for Ministry of Medicine hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s