Pulang

Sang Surya belum sempat naik ke singgasananya
Di ufuk timur
Tapi pemuda ini sudah memacu motornya
Ditemani kotak-kotak rejeki
Di depan, dan lebih banyak di belakang tubuh kurusnya
Motor belum lunas kreditnya segera membaur
Berbias dengan segerombol motor
Mobil
Truk
Bis-bis besar
Mengarungi jalan aspal
Sesekali berlubang
Mungkin menyiratkan beban-beban berat yang sudah ia tanggung
Para perantau
Yang sudi menjamahi ratusan kilometer Pantura
Untuk pulang

Pulang
Adalah rumah bagi si Pemuda
Rumah yang menyimpan kehangatan
Tiada tara
Pulang
Adalah kekasih bagi si Pemuda
Kekasih yang manis molek jelita
Jernih jiwanya
setia menanti cerita jagoannya yang berhasil
Menaklukan ganasnya kota
senyum selalu menghampar
Bagai sawah hijau luas
Menyejukkan

Ketika Sang Surya tega memeras peluh
Tepat di atas kepala
Tak pernah lekang tekad si Pemuda
Rindunya lebih berkobar
Sesekali menepi
Meneguk air botolan
Atau menegakkan sholat lima waktunya
Tak sabar ia menemukan gapura
Bambu melengkung sederhana nan khas jalan kecil rumahnya

Si Pemuda tahu
Gusti Allah akan mempertemukannya
Dengan orang-orang yang dikasihi
Tidak lama lagi
Si Pemuda yakin
Tak akan alam mengkhianatinya
Meski badai menerjang
Anginnya tetap kan membawanya pulang

Ya,
Semua perantau tahu itu

Yogya, 27 Juli 2014

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s