Melampaui Tapal Batas

It has been quite disturbing, to not write it down. My story, or to make it deeper, my thought that has been occupied by this stuff for almost 5 months. Sudah sampai titik jemu, mengubur dalam-dalam. Tapi akhirnya jemari ini memberanikan diri menari-nari di atas tombol laptop.

This is a (true) love thoughts. Tenang saja tidak akan saya buat melankolis dan berpanjang lebar. Buah pemikiran saya yang terdalam. Saya menulis ini tidak dalam kuasa emosi. Saya sadar penuh atas apa yang saya tulis. Tidak ada unsur ghibah.

Cerita singkatnya gini: I was deeply in love with a man. We’ve had conducted 3 years of love, until that time came: the most moment i was afraid of. We broke our status of relationship. Since that day, we’ve been no longer man and woman in love.

Tidak perlu ditanya perasaan saya tentunya. Tidak pernah bisa saya lupa bagaimana rasanya dunia runtuh di hadapan saya ketika ia mengatakan kata-kata itu. Bumi terasa menelan bulat-bulat tubuh saya hingga ubun2. I breathed hardly. I feel so (i can’t find more proper words) devastated. Segala harap mimpi seketika sirna begitu saja.

Keadaan full of anger dan kekecewaan saya alami hingga berminggu-minggu. Hari-hari penuh duka luka dan tidak tahu harus berbagi dengan siapa. Tidak pernah saya merasa selemah itu. Saya dapat katakan bahwa itu adalah the lowest point in my life.

Hari demi hari berlalu, semua berjalan seolah lebih lambat. Bagai anak yang kalap kudapan saat berbuka puasa, saya pun berusaha merengkuh kedamaian dengan berbagai cara hanya untuk meredam kekecewaan saya dan terlebih lagi perasaan tidak berharga ini. Dari mulai musik, bacaan, pelajaran, diskusi, hingga ritual di atas sajadah sudah kulakukan untuk meninggikan kembali ego-ku. Keakuanku yang sudah tertimpa beton bernama “harapan”.

Saya pun jenuh setengah mati untuk menanggapi pertanyaan orang-orang yang berkisar “kenapa, bel? Kok bisa?”. Tahukah kalian bahwa untuk menjawab pertanyaan “kenapa?” tidaklah mudah. Membutuhkan keberanian untuk menyingkap kembali kenangan-kenangan itu, lalu mensintesa kata-kata pantas supaya tidak merugikan pihak mana pun. Dan ini terjadi berkali-kali. Seperti mengorek luka yang sudah kering. Lagi dan lagi. Kemudian kalian kerap menganggapnya bahan gosip yang asyik untuk diperbincangkan. Itulah mengapa aku tidak suka cerita kepada teman perempuan. Mereka memanja rasa, bukan logika.

Disinilah proses pendewasaan saya dimulai. Alih-alih mengedepankan emosi, saya mulai mengandalkan nalar. Betapa terkejutnya menyadari bahwa selama ini justru ego aku yang mendigdayakan jiwa ini. Ia tidak terkubur, tapi diam-diam membiusku terlelap dalam dendam. I stop blaming him and situation. Mengintrospeksi melihat lebih dalam lagi. Ya, tiada ada hubungan yang retak tanpa kontribusi kedua belah pihak. Saya bukan orang yang sempurna. Inilah saatnya saya memperbaiki diri atas segala kekurangan yang ada. Bukan untuk mencapai kesempurnaan yang hakiki. Tapi setidaknya sempurna untuk diri saya sendiri untuk menjalani hidup yang lebih berkualitas. I started to find out: what is my value? What is my goal in this life? Bahagia adalah jawabannya. Dan itu tidak bisa dicapai jika saya hanya berkelindan dengan kemuraman yang sudah-sudah.

Saya mulai berusaha melihat hal-hal positif dari segala yang buruk. Bahkan mulai memberanikan diri menggenggam kembali kenangan-kenangan bersamanya, kemudian menghirup aromanya. Ternyata banyak wanginya! Wewangian itu aku pilah-pilah, kuhamparkan ke koridor-koridor logikaku. Sungguh bersama ia dulu, aku mendapat pelajaran berharga setelah melihat-lihat koridor logikaku tadi. Kumaknai dirinya saat ini sebagai simbol keberanian hidup. Yang patut aku kagumi dan teladani, tapi belum tentu dicintai.

Apakah aku merasa dirugikan? Lihatlah, aku yang ada kini karena aku dan dia yang dulu. Tak ada yang perlu disesali.

Sudah saya katakan ini bukan bualan patah hati. Jangan harap bisa mendapatkan informasi tentang mengapa kami bisa begini-begitu. Atau siapa yang salah. Ini adalah cerita penemuan kearifan dibalik – yang orang-orang bilang—musibah. Saya rasa semua orang perlu sampai pada tingkatan seperti saya ini. Bukan melupakan masa lalu, karena itu terlalu pengecut. Tapi ingatlah dia untuk membuatmu lebih kuat. Jika kau tak mengingatnya, maka tidaklah kau akan pernah tahu tapal batasmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s