Menuju Demokrasi Lancung (?)

Sebut saja saya adalah orang yang cukup impulsif. Saat orang-orang ramai membicarakan pesta demokrasi terbesar di negara ini, saya pun ikut terbawa arus derasnya euforia. Tapi biarlah, seperti judul blog ini “Capturing Life”, I want to capture every moment in my life by words. Dan besok, Pemilihan Umum Presiden ke-7 negara saya, bisa jadi adalah momentum terbesar di tahun ini, bagi Indonesia dan, tak terelakkan lagi, bagi saya sendiri.

Entah mengapa dalam dua hari terakhir jantung ini sering berpacu lebih cepat. Tidak jarang saya menitikkan air mata. Belum pernah saya setakut ini menghadapi pemilu. Lebih ngeri daripada membayangkan wajah seram ayah ketika pulang kencan kemalaman. Diam-diam saya sering berdoa dalam hati, “Allah, jangan sampai kubu sebelah yang menang. Saya masih cinta sama negeri ini”. Terkesan tidak ikhlas, tapi memang benar. Ya! Saya belum bisa ikhlas jika demokrasi bangsa ini yang sudah bertahun-tahun dibangun menjadi roboh karena masyarakatnya yang masih sesat pikir.

To be honest, awalnya saya tidak begitu peduli dengan berbagai rumor negatif dalam pemilu. Teguh pikiran ini, siapa pun pemimpinnya saya ikhlas. Karena pada dasarnya kedua calon, memiliki itikad baik untuk memajukan Indonesia. Namun lagi-lagi, tak bisa saya menutup mata ini dari segala informasi yang bersliweran di hadapan saya. Mencoba selektif, malah jadi terlalu inklusif. Masa tenang, malah perasaan ini ditabuh genderang. Ramai! Sumber-sumber yang saya percayai integritasnya juga jelas-jelas memantapkan pembenaran saya, bahwa kubu sebelah berbahaya. Perenungan seolah membawa ke jalan buntu. Melihat sekeliling dengan memaksimalkan kelima indera saya, tapi tetap hampa. Saya frustasi, Allah!

Alasannya sederhana. Lima tahun lalu kepekaan sosial saya mulai bertumbuh, seiring dengan perubahan status saya dari ‘siswa’ menjadi ‘mahasiswa’. Nurani mulai terbuka, nasionalisme mulai terbangun. Hari demi hari, keterikatan emosi dengan bangsa ini semakin terjalin kuat. Tiada hal yang lebih indah daripada membayangkan Indonesia tersenyum kembali. Kebencian saya hanya satu: para hipokrit-hipokrit bangsa ini. Koruptor, mafia, otoritas yang sewenang-wenang. Kami benci mereka semua. Tidak terhitung banyaknya waktu yang saya habiskan dengan teman-teman untuk senantiasa mengadvokasi hak-hak rakyat yang tertindas. Wah, kesannya heroik sekali. Tapi, hal luar biasa ini sebenarnya juga dilakukan oleh semua mahasiswa dan pemuda dari Sabang sampai Merauke, saya yakin itu. Dengan berlandaskan kecintaan dan optimisme bahwa “Suatu hari nanti saya akan bekerja dengan pemimpin yang mampu merubah negeri ini jadi lebih baik”, kami membayar harapan itu dengan rapat siang-sore-malam, urun peluh dijalanan, bertempur pikiran dengan mereka yang punya kuasa dan kocek. Bahkan kami berani mewariskan semangat itu kepada adik-adik kelas.

Wahai kawan, masih ingatkah dengan semangat itu? Semangat mengangkat kebenaran dan menyudutkan yang khianat. Kedamaian dalam keberagaman, tanpa terkecuali, yang selama ini kita perjuangkan? Bukan hanya ‘agama’ ku, ‘aliran’ ku, bahkan ‘kepentingan’ku yang lain. Mengapa semua seolah bias setelah bertubrukan dengan yang kau katakan ‘keyakinan’ itu? Saya masih tidak percaya dengan penaifan berbagai fakta demi apalah-itu-yang- mereka-katakan perintah Tuhan. Jadi dimana segala diskursus dan kepentingan rakyat yang pernah kita perjuangkan dulu? Mungkin hanya akan, lagi-lagi, menjadi elegi bangsa ini.

Luar biasa memang pemilu 2014 ini. Selain sukses membangkitkan para apatis dari liang kubur ketidakpeduliannya, ia juga berhasil menyibak tabir pola pikir beberapa teman saya. Tidak sedikit ketika berdiskusi dengan teman-teman berpikir saya selama ini, mulai terlihat value yang mereka pegang. Banyak yang berseberangan, dan tidak sedikit yang sepemikiran. Sedih sebenarnya melihat teman berpikir yang tadinya satu frekuensi, ternyata saat ini tidak dalam satu radar. Tapi itulah pluralisme, ketika kita satu ras, satu suku, bahkan satu keluarga, tapi ternyata pemikiran kita berbeda.

Akhirnya, saya hanya mampu menambatkan harapan saya kepada Allah. Kata orang Jawa “Gusti Allah ora turu” 🙂 Ya, Allah tidak pernah tidur dan tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Sambil berharap dicucuri keikhlasan siapa pun presidennya nanti, saya pun sedikit-sedikit sering berbisik dalam doa: semoga demokrasi lancung yang dirasakan anak-cucu saya nanti bukan berasal dari pemilu ini. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s