“Linking Professionalism to Humanism: What It Means, Why It Matters”: Pandangan Mengenai Sisi Lain Dokter yang Sering Terlupakan

A couple days ago, my professor (Prof. Dr. dr.  Endang Basuki, MPH) conducted an intimate discussion with us. Students in this Community Medicine Module are expected to be well-informed and passionately apply professionalism in their clinical setting. We were mesmerized by its concept. Professionalism is truly affect our practice as a doctor. So, my professor insisted us to read this article, which reveals a bigger power behind professionalism itself. Here is my resume, or err…somewhat just call it my review (y) Enjoy!

Seperti yang sudah saya tuliskan di bagian judul, bahwa isu mengenai profesionalisme dan humanisme saat ini masih belum banyak diulas di kalangan profesi kesehatan, dalam konteks ini dokter. Meskipun sudah mulai muncul kesadaran akan pentingnya profesionalisme dan humanisme dalam praktik sehari-hari, banyak dari mereka yang berpikir bahwa kedua hal ini dapat muncul secara alamiah dengan sendirinya tanpa perlu diajarkan apalagi dimasukkan ke dalam kurikulum kedokteran. Apakah semudah itu menumbuhkan dua sifat mulia ini?

Cohen JJ dalam artikel ini menuliskan bahwa profesionaslime adalah “a way of acting” yang terdiri dari perilaku-perilaku yang dapat diobsesrvasi. Dalam konteks kedokteran hal ini telah diatur di dalam Physian Charter. Profesionalisme dokter muncul akibat adanya kontrak sosial dokter dengan masyarakat, sehingga dokter harus dapat memenuhi ekspektasi masyarakat dalam memberikan layanan kesehatan. Profesionalisme meliputi mengutamakan kepentingan pasien, otonomi pasien, dan keadilan sosial. Namun sayangnya, profesionalisme ini diaplikasikan secara pragmatis oleh dokter. Artinya, prinsip-prinsip dasar yang melatarbelakangi munculnya profesionalisme ini, yaitu humasnisme, sering terlupakan. Akibatnya, tidak jarang tindakan dokter dalam profesinya tidak sejalan dengan komitmen etik dalam kedokteran. Dapat terjadi pelanggaran etika kedokteran dan lain-lain. Hal ini dikarenakan humanisme adalah “a way of being” yang terdiri dari nilai-nilai personal yang mendorong seseorang untuk menolong orang lain yang membutuhkan. Humanisme dimanifestasikan dalam bentuk altruisme, integritas, menghormati orang lain, dan mengasihi sesama. Dalam konteks kedokteran, dokter yang humanis secara intuitif terdorong untuk menganut nilai-nilai kebaikan dalam melaksanakan tugasnya sebagai dokter. Penulis menegaskan adanya hubungan erat antara humanisme dengan profesionalisme: ‘humanism provides the passion that animates authentic professionalism’. Tantangan bagi dokter yang muncul hampir setiap hari dalam praktik sangat rentan membuat dokter menelantarkan komitmen profesionalismenya. Tanpa adanya dasar humanisme, profesionalisme akan kehilangan otentitasnya.

Melihat pentingnya humanisme dalam menumbuhkan jiwa profesionalisme pada dokter, maka Cohe JJ menilai perlu adanya proses internalisasi nilai ini kepada para dokter sejak sebelum menjadi seorang dokter. Bahkan menurutnya, proses penerimaan mahasiswa kedokteran perlu menilai kualitas humanisme pada calon-calon dokter. Kesadaran ini sudah mulai muncul, tapi nampaknya institusi pendidikan kedokteran masih kesulitan untuk menyusun instrumen yang tepat dalam menilai karakteriktik seorang individu, akibatnya masih banyak institusi yang hanya menggunakan penilaian akademis dalam proses penyaringan mahasiswa kedokteran. Hal ini membawa dampak yang tidak kecil, dengan seleksi penerimaan mahasiswa kedokteran yang hanya melihat aspek kognitif saja, institusi pendidikan akan kehilangan kandidatnya yang memiliki kualitas profesionalisme yang otentik. Setidaknya yang dapat dilakukan institusi pendidikan kedokteran saat ini adalah menyampaikan pesan kepada para kandidat mahasiswanya bahwa nilai-nilai humanisme juga sama pentingnya dengan nilai akademis dalam pendidikan kedokteran.

Komitmen untuk mengembangkan profesionalisme perlu ditanamkan kepada para mahasiswa kedokteran, residen, dan dokter pada umumnya. Penanaman profesionalisme ini dapat diaplikasikan dalam pendidikan, baik kurikulum tertulis maupun yang ‘tersembunyi’. Artinya profesionalisme ini perlu diajarkan dan dicontohkan oleh dokter pengajar, baik dalam bentuk tertulis maupun tidak tertulis seperti perilaku sehari-hari. Namun, lagi-lagi aspek humanisme perlu diintegrasikan ke dalam agenda profesionalisme. Tanpa humanisme, mempraktikkan profesionalisme sendiri seperti membeli Ferrari tanpa mengisi tank bahan bakarnya. Peran humanisme dalam pengembangan profesionalisme juga perlu ditunjang dengan adanya budaya humanistik di sekitar. Budaya ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu perlu adanya role model dalam pendidikan kedokteran untuk pengembangan humanisme. Penghargaan bagi mereka yang berhasil mengaplikasikan humanisme dalam praktiknya juga dapat ditangkap sebagai sinyal kuat akan nilai humanisme yang dijunjung oleh institusi tersebut.

Dapat dipahami bahwa bukan suatu hal yang mudah untuk mengintegrasikan materi “nonscientific” ke dalam kurikulum untuk mengembangkan jiwa humanisme pada mahasiswa kedokteran. Namun hal ini dapat terus diasah dengan melatih caring culture memanfaatkan berbagai modalitas yang ada. Misalnya dengan mengasah kemampuan refleksi diri mahasiswa sebaik mungkin dalam setiap akhir pembelajarannya. Akhirnya, Cohen JJ menekankan humanisme dalam kedokteran adalah cara terbaik untuk mencapai dimensi emosional dalam dunia klinis sehingga mahasiswa dapat menjadi profesional yang humanis yang sebenarnya bukan sekedar berperilaku seperti profesional yang humanis.

Diulas dari Cohen JJ. Viewpoint: linking professionalism to humanism: what it means, why it matters. 2007. Academic Medicine, Vol 82, No 11. p. 1029-1032.

our discussion group with Prof. Dr. dr. Endang Basuki, MPH

our discussion group with Prof. Dr. dr. Endang Basuki, MPH

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s