Anak yang Tidak Terencana dan Kompetensi Budaya

One of my serious writings. Very serious because it’s one of the prerequisites to engage in my final assessment (comprehension test) to be doctor. (yeay!)

Ditengah antusiasme ibu-ibu peserta penyuluhan yang ramai bertanya mengenai makanan sehat untuk ibu hamil, tiba-tiba seorang ibu muda yang juga tengah hamil mendekati saya dan berbicara pelan, “Dok, saya ingin tahu KB yang tepat untuk saya apa, ya?”. Sedikit terkejut karena tentu saja hal yang dia tanyakan di luar topik penyuluhan yang sedang dilakukan oleh saya dan teman-teman.

Pengalaman ini belum lama saya alami, kira-kira satu minggu sebelum saya menuliskan naskah refleksi ini. Di ruang tunggu puskemas, setelah acara penyuluhan usai, saya pun mengajak diskusi ibu muda yang membutuhkan pertolongan itu. Ia bercerita bahwa ia sedang mengandung 36 minggu anak keempatnya, yaitu anak yang sebenarnya tidak direncanakan oleh dia dan suami. Anak ketiganya belum genap berusia satu tahun. Ia mengaku bahwa setelah kelahiran anaknya yang ketiga, ia tidak segera memakai metode kontrasepsi apa pun karena menurutnya itu bukanlah kebutuhan mendesak. Dalam pemikirannya, hamil baru akan terjadi setelah ibu pascamelahirkan kembali mengalami menstruasi, yang berdasarkan pengalamannya ia baru akan mengalami menstruasi lebih dari 6 bulan pascamelahirkan. Ia pun saat ini berencana untuk tidak mengulangi kesalahannya dengan memakai KB yang tepat.

Usia ibu tersebut adalah 28 tahun dan beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Penghasilan suaminya masih di bawah Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta. Ia mengaku sudah kewalahan mengurusi ketiga anaknya yang masih kecil. Dan saat ini dirundung kekhawatiran karena bingung bagaimana akan membiayai anaknya yang tengah dikandung. “Saya takut anak ini nanti nggak keurus, dok” Hati saya pun menjerit mendengar cerita dan keluh-kesahnya. Bagaimana bisa ada seorang anak manusia yang sebentar lagi lahir ke dunia ini, tapi orangtuanya belum mempersiapkan apa pun?

Saya pun menanyakan kepada ibu tersebut apakah petugas puskesmas sudah memberikan solusi terkait masalahnya itu, berhubung ini bukanlah kali pertama ia datang untuk melakukan pemeriksaan antenatal. Menurutnya, setiap kali ia datang dan menanyakan tentang KB yang tepat untuknya, bidan-bidan hanya memberitahu sekedarnya tanpa menyebutkan kelebihan dan kekurangan masing-masing metode. Ketika saya tanyakan ulang KB jenis apa saja yang ia ketahui, ia pun hanya menjawab pil KB serta spiral.

Dari caranya berbicara dan mengemukakan pengetahuannya mengenai KB, saya paham benar bahwa ibu ini belum tahu banyak tentang KB dan kenyataan bahwa kesuburan bisa kembali sebelum menstruasi, apalagi untuk memutuskan KB yang tepat untuknya nanti. Saya pun yakin bahwa informasi dari bidan-bidan sebelumnya kepada ibu ini belum benar-benar tersampaikan. Baik informasi mengenai KB yang disampaikan sebelum ia mengandung anak keempatnya ini ataupun saat menjalani pemeriksaan antenatal. Saya pun berpikir, apa yang menyebabkan informasi ini tidak tersampaikan?

Setelah menjelaskan panjang lebar kepada sang ibu tentang berbagai pilihan dan alternatif yang dapat ia gunakan dan memastikan bahwa ibu tersebut memahaminya dengan baik, saya segera melakukan observasi kecil-kecilan proses edukasi yang dilakukan bidan-bidan di puskesmas tersebut terkait KB. Yang saya temukan adalah ternyata bidan tidak selalu memberikan edukasi tentang KB kepada tiap pasien yang melakukan pemeriksaan antenatal (ANC). Bidan hanya memberi tahu tentang KB jika ada pasien yang bertanya. Kalaupun sempat dijelaskan, waktu yang dihabiskan sangat sedikit sekali, tidak mencapai 5 menit. Cara mengedukasi mereka pun masih satu arah. Bahkan sering saya temukan bidan yang menjelaskan tentang KB pascapersalinan beruba KB spiral saat ibunya sedang persiapan persalinan. Kebanyakan ibu-ibu yang hamil itu hanya mengangguk-angguk dan diam, tidak bertanya lebih lanjut. Ketika saya sengaja tanyakan kepada beberapa bidan mengapa tidak memberikan edukasi KB kepada tiap  ibu hamil yang datang, jawaban mereka mengerucut pada beberapa poin, yaitu (1) waktu yang tersedia sangat sedikit, sementara jumlah pasien banyak, (2) bidan menganggap bahwa seharusnya ibu-ibu mengetahui informasi tentang KB dari ibu-ibu lainnya, (3) sudah sering diadakan tentang penyuluhan KB oleh petugas kesehatan, (4) tingkat pendidikan ibu-ibu yang berkunjung masih rendah, sehingga mereka sulit untuk diedukasi, lebih baik langsung beri tahu jenis KB yang harus mereka pakai ketika akan bersalin, (5) ibu-ibu hamil jarang bertanya dan lebih banyak diam saat diedukasi, sehingga bidan-bidan beranggapan bahwa mereka telah memahaminya.

Setelah melakukan observasi tersebut, saya pun berusaha mendapatkan garis besar permasalahannya. Sebenarnya permasalah ini berasal dari kedua belah pihak, yaitu petugas kesehatan dan pasien. Dari pasien sulit memahami apa yang diinformasikan oleh petugas kesehatan karena pengetahuan mereka yang rendah, sehingga sulit memahami bahwa KB pasca persalinan adalah penting dan sulit memutuskan KB apa yang tepat untuknya. Di sisi lain, petugas kesehatan memperlakukan semua ibu hamil seolah-olah memiliki tingkat pengetahuan dan pengalaman yang sama, padahal jelas setiap pasien berasal dari tingkat sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda. Asumsi petugas kesehatan bahwa pasien sudah mendapatkan informasi dari peer-groupnya mengenai KB dan jarang bertanya karena paham, tidak divalidasi dengan pertanyaan konfirmasi.

Saya berusaha menilik ke belakang sisa-sisa ilmu yang sudah diajarkan oleh guru-guru saya saat masih di pre-klinik, yaitu mengenai hubungan dokter-pasien yang baik. Sebagai care-provider yang profesional seharusnya petugas kesehatan di tingkat layanan primer, terutama dalam hal usaha promotif, mampu mengimplementasikan kompetensi budaya. Mungkin terdengar remeh, namun menurut saya kunci solusi dari masalah edukasi kepada pasien adalah skill kompetensi budaya. Dengan kompetensi budaya, petugas kesehatan akan peka terhadap keberadaan perbedaan budaya yang ada pada tiap pasien. Budaya disini bukan hanya asal suku bangsa, tingkat ekonomi, maupun pendidikannya. Tapi didalam masyarakat plural, banyak keberagaman cara pandang yang akan berdampak pada persepsi pasien terhadap masalahnya. Dalam konteks ini masalah yang sedang dihadapi adalah kontrasepsi. Skill ini dapat menunjang kemampuan komunikasi efektif, sehingga hasil keluaran sesuai dengan yang diharapkan.

Dari salah satu jurnal yang saya temukan, Celik, dkk (2007) mengatakan bahwa masalah implementasi kompetensi budaya hingga saat ini masih memiliki banyak hambatan. Diantaranya, yaitu kurangnya kesadaran dan pengetahuan mengenai keberagaman budaya, buruknya informasi dan komunikasi, serta hambatan dari institusi, salah satunya adalah waktu yang terbatas. Buruknya informasi dan komunikasi dapat dievaluasi dengan menilik keberhasilan metode penyuluhan yang selama ini diandalkan oleh puskesmas. Apakah petugas kesehatan telah menggunakan bahasa yang mudah dipahami? Apakah sudah menggunakan alat penunjang yang “bersahabat”? Apakah komunikasi sudah dilakukan dua arah? Jadi seyogyanya bidan-bidan tidak terlalu dini berasumsi bahwa penyuluhan telah dilakukan dengan baik. Namun, kita masih bisa optimis karena dari jurnal tersebut juga menyebutkan masih ada banyak kesempatan besar bagi petugas kesehatan untuk mengembangkan kompetensi budayanya, yaitu mulai munculnya sense of urgency dari profesi kesehatan untuk mengaplikasikan skill ini, good practices, dan kondisi politis.

Jika saya melihat lebih luas lagi, ternyata permasalahan komunikasi efektif petugas kesehatan-pasien juga banyak ditemukan antara dokter-pasien yang saya temui selama hampir 2 tahun menjadi mahasiswa kepaniteraan. Alasan terbanyak adalah sedikitnya waktu yang tersedia untuk mengedukasi. Ditambah dengan jumlah pasien yang sangat banyak. Sehingga dokter lebih banyak menargetkan “yang penting semua pasien tertangani. Mengenai nyaman atau tidak untuk pasien, itu urusan belakangan”.

Pengalaman memberikan konseling “tidak sengaja” kepada ibu hamil tua itu sangat memberikan saya banyak pelajaran. Setidaknya ketika nanti saya sudah menjadi dokter akan berusaha mengintrospeksi diri sendiri terlebih dahulu, alih-alih menyalahkan keadaan lingkungan yang tidak mendukung. Apakah saya sudah memperlakukan pasien sesuai dengan nilai yang pegang? Menurut saya kenyamanan pasien adalah hal yang utama. Saya tidak akan pernah melupakan kata-kata bijak dari guru saya mengenai profesi dokter ketika pertama kali masuk fakultas ini, “To cure sometimes, to care often, to comfort always”.

 

Sumber:

  1. Kuliah Kompetensi Budaya “ Sensitivitas Budaya Pelayanan Kesehatan pada Masyarakat Plural” disampaikan dalam Modul Ilmu Kedokteran Komunitas Semester 6. FKUI. 2012.
  2. Celik H, Abma TA, Widdershoven GA, Wijmen FCB, Klinge I. Implementation of diversity in healthcare practices: barriers and opportunities. Netherland: Elsevier. Patient Education and Counseling 71; 2008. p: 65-71.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s