Di Atas Rel, Di Bawah Rembulan

I can’t bear this urge to write my brief random experience last night! (bahkan nulis subuh2 gini :p)

Firstly, A bunch of thanks untuk teman lama saya, Adit, yang udah mengajak ke tempat ‘asing’ ini. Sehingga saya bisa melihat dan merasakan langsung berada di tengah perumahan kumuh di pinggir rel.

Udah lama sebenernya, saya memendam keinginan untuk mengajar anak-anak marjinal. Iya, anak2 yang kerap kita lihat sebelah mata kalo lagi berhenti di lampu merah, mereka dengan rajinnya meminta belas kasihan kita. Anak2 yang kadang jadi korban suuzhon kita “ih paling disuruh sama orang tua nya yang males kerja”, “anak kecil udah diajarin minta2, ih”, tanpa kita mikir kalo kita di posisi mereka apakah kita bisa melakukan hal yang lebih baik daripada yang mereka lakukan sekarang?

anyway, back to my story. Berbekal hasrat saya tersebut, yang (masih) sulit kesampean, saya menerima ajakan teman saya yang adalah volunteer di salah satu NGO yaitu umbrella wisdom. Sejak pertama saya diperkenalkan oleh teman saya itu (Adit) tentang organisasi ini, meski cuma via BBM, saya sangat tertarik. (Organisasi ini basically concern di ranah pendidikan, memberikan pendidikan informal untuk anak2 jalanan yang berdomisili di perkampungan kumuh DAO-atas Rel kereta, Ancol, Jakut. Isinya anak2 muda kayak saya gini. cool isn’t it?) Jadi, ketika suatu malam diajak untuk ikut ksana, tanpa pikir panjang saya langsung mengiyakan! Apalagi liburan semester saya udah mau berakhir, so i consider to make a brief but meaningful experience before this holiday over! This was way too appropriate!

Sesampainya di sana saya cukup kaget karena tempatnya benar2 di samping rel kereta. Dan ternyata rel keretanya sudah tidak fungsional lagi. Namun bukan berarti warga DAO-atas tidak luput dari marabahaya karena di sisi lain rumah mereka masih ada rel yang fungsional. Apa yang membuat jantung saya berdegup kencang adalah pemandangan sensasi melewati rumah mereka satu persatu. but i can’t tell you it was fit to name it “home” :”( Rumah2 mereka terbuat dari triplek2 kayu, yang letaknya berdempetan hanya seukuran sepetak-dua petak. Entah berapa keluarga yang menempati satu rumah seperti itu. Yang jelas ketika malam hari, anak-anak justru banyak yang main2 di luar rumah. Ibu-ibu dan bapak-bapak juga banyak yang duduk2 ngobrol santai di luar rumahnya. Hmm mungkin mereka semua keturunan Batman :”)

Di bawah terangnya bulan (serius terang banget), saya dan Adit berjalan menyusuri rel kereta. Ah, sayang sekali saya saat itu tidak membawa kamera, jadi tidak bisa menangkap gambar2 tumpukan botol di depan rumah mereka (kebanyakan dari mereka pemulung), bagaimana mereka hobi menyetel acara TV drama “pendekar” *akhirnya saya tahu kenapa stasiun televisi tersebut masih menayangkan acara seperti itu* Saya pun berpikir dalam hati, bertahun-tahun saya aktif di organisasi sosial-kemasyarakatan kenapa masih kaget melihat pemandangan seperti ini. Masalahnya adalah, acara2 yang sering saya dan teman2 helat sebelumnya berada di perkampungan yang legal. Sedangkan perkampungan kumuh ini, tentu sifatnya ‘liar’ sehingga terkesan kondisinya lebih menyedihkan. Saya tidak tahu apakah mereka memiliki kartu tandu penduduk resmi untuk tinggal di sana. Apakah mereka bisa bertahan barang setahun akibat banyaknya ancaman untuk penggusuran.

Okelah, akhirnya saya sampai di tempat belajar yang kami tuju, Sekretariatnya Umbrella Wisdom. Saya sempet tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Bangunan semipermanen yang hanya seukuran pos siskamling kalau di komplek-komplek rumah kita :””( I wonder, how can this ‘house’ accommodate all activities held by this organisation? dengan jumlah anak2 yang tidak sedikit dan tidak bisa diam lari kesana-kemari. Namun, sayang sekali rumah itu dikunci dan akhirnya kami baru tahu bahwa sekolah diliburkan karena keesokan harinya akan diadakan agustusan. Yah well memang belum rejekinya ketemu teman-teman baru.

NAH, but it doesn’t mean the adventure was over! Ketika saya dan adit solat di mesjid dekat situ, saya langsung dirubung oleh anak-anak, yang ternyata adalah murid-murid sekolah umbrella. Saya mulai panik (i’m not good in dealing with kids!), menerima serangan pertanyaan dari mereka, “kakak mau ngelesin yah?”,”kakak baru ya? namanya siapa??”, “kak aku mau ngegambar dong!” dan pertanyaan antusias lain sambil mereka menyalami saya satu per satu. Sempet kikuk awalnya menghadapi kelucuan dan kehangatan mreka dalam menyambut saya. Tapi lama kelamaan saya bisa menikmatinya 🙂 Mereka rata2 berusia 4-10 tahun, ada yang sekolah, tapi ada juga yang tidak. Saya belum banyak mengeksplorasi latar belakang sosial dari masing-masing anak ini. Bukan berarti tidak peduli tapi saya cukup disibukkan untuk menikmati ulah mereka. Tidak seperti anak-anak kecil yang saya kenal umumnya. Biasanya anak kecil akan malu-malu jika baru pertama kali orang asing. Tapi tidak dengan mereka bocah2 DAO-atas yang langsung mengajak berkenalan dan bahkan bermanja-manja ria dengan orang asing sperti saya (minta digendong, minta dipeluk) Oh God I love this kids! Belum lagi kecentilan2 anak2 perempuan yang haus akan perhatian kami saat menarikan dan menyanyikan lagu cherrybelle 😀

Ya, akhirnya pun karena kelas ditutup, kami memutuskan untuk duduk-duduk ria di atas rel (for God sake! it was my first time sitting on railway!) Sambil bernyanyi2 lagu anak-anak, lagu kebangsaan, dan lagu-lagu lainnya kami sangat menikmati malam itu. Meski ada saja ulah yang anak-anak ini perbuat sehingga ada adegan salah satu anak menangis karena digoda oleh temannya :’p Kelucuan lain yang saya tangkap adalah ada satu anak perempuan bernama Ayu. Ia jarang mau ikut bernyanyi bersama teman-temannya karena alasan tidak hafal lagunya (bahkan bintang kecil tidak hafal!). Sehingga dia selalu merengek meminta saya menyanyikan lagu-lagu yang ia hafal saja. Tapii sayangnya lagu-lagu yang ia sebutkan jarang yang saya tahu (memang antimainstream ini anak) But anyhow kami tetap bisa bersama-sama menikmati malam itu. Dan si Adit nampak tidak kagok ngurus anak-anak :’p akrab banget! I should learn a lot from him 🙂

It was brief but yet it taught me a lot of things. Bahwa pemandangan yang biasa saya lihat di layar televisi dan lewat kaca kereta itu benar adanya. Kesenjangan antara gedung-gedung pencakar langit dan rumah-rumah kumuh di sebelahnya itu benar-benar ada dan bisa kita rasakan sendiri. Ketika berada di tengah-tengah anak-anak ini mungkin saya sempat merasakan adanya ketidakberuntungan pada diri mereka. Ketika anak-anak lain nyenyak tidur di kasur empuk dan di bawah selimut tebal mereka justru berlari-larian di atas rel usang, menikmati dinginnya angin malam. Tapi, mereka tetap bisa tertawa-tawa bahagia. Dengan kepolosan seorang anak kecil, mereka bisa menikmati hidup dengan segala keterbatasannya, tidak peduli seberapa besar utang orangtua mereka. Pengalaman ini cukup menampar saya betapa saya yang sudah dewasa malah sering mengeluhkan hal-hal yang tidak penting. I should more enjoy this life! dan bersyukur terhadap segala pemberian-Nya

Jadi kalau ada yang bertanya: Kamu tahu apa yang ada di atas rel dan di bawah bulan? Jawabannya bukan hanya kereta api saja, tapi ada manusia-manusia kecil masa depan bangsa yang pandai untuk menikmati hidup 🙂

ps: lain kali harus dicoba rasanya naik kereta lori (kind of small-wooden train pushed by human force) 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s