Embun Pagi

Gadis ini sangat suka dengan embun di pagi hari. Mentari nama gadis itu.

Tiap pagi, tiap dia duduk di taman rumahnya, mengamati bulir-bulir halus air yang menempel di telapak tangannya. Tidak pernah berhenti takjub dengan fenomena alam sederhana ini, pengembunan.

Tapi ada yang membuat Mentari semakin serasi dengan fenomena pagi hari itu, selain namanya yang mirip dengan pemilik kerajaan pagi, Sang Matahari, Mentari juga serasi dengan pria yang kerap melewati rumahnya tiap pagi. Pria yang tidak pernah ia kenal, lebih dari sekedar nama.

Bagaimana tidak serasi, tiada pernah satu pagi pun yang terlewatkan oleh Mentari untuk melihat pria tersebut berjalan terburu-buru membawa tas selempangnya berbalut pakaian rapi. Dan tiada satu pagi pun bagi mereka menggunakan warna pakaian yang berbeda. Ya, dari Senin hingga Minggu, tanpa perencanaan apa pun, pakaian mereka selalu memiliki warna yang sama. Mentari sama sekali bukanlah peramal. Maka, adakah yang bisa merasionalisasikan suatu keserasian atas dasar ketidaksengajaan yang telah berlangsung 2 tahun? Ya, 2 tahun lamanya Mentari duduk bersama embun untuk menatap lekat si pria-terburu-buru-melewati-rumahnya.

Sudah 2 tahun juga, Mentari tahu bahwa nama pria itu adalah Awan. Bertambah yakinlah Mentari bahwa ia telah menemukan pelengkap hidupnya, yaitu Awan. Mentari yang mencerahkan awan di langit, dan Awan yang menutupi mentari saat ia butuh istirahat. Apa ada yang lebih serasi dibanding Mentari dan Awan?

Sering Mentari bercerita pada embun paginya, tentang berapa langkah yang dihabiskan Awan untuk melewati rumahnya pagi itu, dan apa warna pakaian yang Awan kenakan. Mentari sangat bahagia jika Awan menghabiskan waktu beberapa detik lebih lama untuk melewati rumahnya. Dan embun paginya setia mendengar cerita monoton dari Mentari.

Hingga suatu pagi, seperti layaknya pagi-pagi sebelumnya, Mentari duduk di atas singgasana bangku embunnya, Awan berjalan terburu-buru menggunakan pakaian yang tidak biasanya. Mentari terkejut Awan mengenakan pakaian loreng-loreng hijau dari atas hingga bawah. Pola dan warna pakaian yang tidak pernah digunakan Awan sebelumnya! Mentari mengalihkan pandangannya ke baju yang tengah ia gunakan, putih. Mentari putih, Awan hijau. Tidak bisa berkedip Mentari hingga bayangan Awan lenyap dari pandangannya, hilang. Mentari masih berharap Awan segera muncul lagi dengan warna pakaian berbeda, yaitu putih seperti yang sedang ia kenakan. Tapi, Awan putih tidak pernah muncul lagi hari itu.

Mentari merasa geram, ia merasa dikhianati. Berani-beraninya Awan mengenakan warna pakaian yang berbeda dengannya! Ini pertama kalinya Mentari merasa kecewa terhadap Awan. Sudah ternodai keserasian mereka berdua oleh si loreng hijau. Esok Mentari akan membuktikan bahwa mereka berdua masih serasi. Ia berjanji kepada embun paginya.

Keesokan harinya, Mentari masih menggunakan pakaian warna putih. Embun pagi turun menempel di bangku taman, seperti bersiap menyaksikan pembuktian yang dijanjikan Mentari. Layaknya ingin menyaksikan perhelatan akbar, pagi itu embun yang turun lebih banyak dari biasanya. Hingga mengaburkan pandangan Mentari ke arah jalan.

Semenit, dua menit… Awan belum juga muncul. Setengah jam, satu jam… masih belum tampak sosok awan dengan pakaian putih. Mentari mulai resah, ia segera beranjak dari bangku embunnya dan mendekat ke arah gerbang rumahnya. Mungkin pasukan embun telah sedikit mengganggu pandangannya, sehingga Mentari perlu memastikan ia tidak melewati momen yang tengah ia tunggu-tunggu.

Matahari telah sampai di atas kepala. Tapi, kemana Awan yang ditunggu Mentari? Ia masih juga belum muncul. Mentari masih tidak percaya, kali ini Awan benar-benar tidak ada. Ia segera mencari embun paginya untuk meluapkan perasaannya. Namun, embun-embun kesayangannya juga sudah hilang. Bosan dan lelah menunggu dengan Mentari mungkin.

Keserasian yang selama ini Mentari deklarasikan kepada embun ternyata tidaklah abadi. Awan tidak lagi mengenakan warna pakaian yang sama, dan tidak lagi melewati depan rumahnya. Semua yang Mentari bangga-banggakan telah sirna. Sedangkan embun? Mereka masih setia menempel di bangku kesukaan Mentari, meski Awan sudah tidak ada.

Mentari menatap deretan tetes embun di bangku tamannya, berdiri mematung di depannya. mengapa ia baru menyadari sekarang? Embun-embun itu tampak merefleksikan bayangan Mentari dengan pakaiannya yang cantik, sesuai dengan warna yang sedang ia kenakan. Ini bukan hanya terjadi hari ini, tapi selama ribuan hari sebelumnya. Mengapa ia baru menyadari bahwa embun-embun itu jauh lebih serasi untuknya?

Mentari pun tersenyum, karena pagi harinya akan jauh lebih indah bersama embun, dibanding dengan Awan-nya yang sekarang entah pergi mengikuti angin kemana.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s