Sebuah Perjalanan Hati

Entah mengapa, di pagi secerah ini, godaan untuk menekan tombol-tombol keyboard laptop jauh lebih menarik dibandingkan godaan untuk keluar menghirup udara pagi segar dan menangkap belaian hangat sinar Sang mentari. Tidak lain dan tidak bukan karena tiga frasa: Badan Eksekutif Mahasiswa Ikatan Keluarga Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (BEM IKM FKUI).

Seperti yang dikatakan oleh tokoh di buku “5cm.” : Mahameru itu bukan cuma perjalanan alam, tapi perjalanan sebuah hati. Begitu pula yang aku rasakan selama hampir setahun ini di BEM IKM FKUI. Bukan hanya perjalanan berorganisasi, tapi perjalanan satu, atau lebih hati. Hati yang sama-sama berani bermimpi besar di awal, dan beraksi nyata untuk IKM FKUI.

Saya yakin, sebaik apa pun saya berusaha untuk menorehkan rangkaian kata disini, tetap tidak akan mampu menggambarkan rasa syukur dan kebanggaan saya bisa dapat bergabung dalam organisasi ini. Oke, selanjutnya saya lebih nyaman menyebutnya “keluarga”, alih-alih “organisasi”.

Tidak pernah terpikir sebelumnya bisa berjalan sejauh ini bersama dengan keluarga BEM. Saya sangat ingat sebelum tergabung, seorang sosok hebat mengulurkan tangannya, mengajak untuk bergabung dalam keluarga ini untuk mewujudkan mimpi bersama. Sosok itu adalah Maulana Rosyady (Ady), ketua BEM IKM FKUI 2012. Bukan mimpi rendahan atau utopis, tapi sangat mulia. Meski saya tahu akan cukup berat untuk menggapainya, tapi dengan niat ikhlas dan optimisme saya untuk mengalahkan ke-tidakmungkin-an, maka saya pun akhirnya bergabung. Gemetar rasanya saat itu menyadari “pergerakan” akan menjadi dunia saya selama setahun. Dengan modal kecintaan saya terhadap ranah ini, sosial dan politik, dan Indonesia, maka saya siap mendedikasikan jiwa dan raga ini.

Tentu saya disini tidak sendirian. Ada dua keluarga kecil hebat yang mendampingi saya, yaitu teman-teman Kastrat dan Pengmas. Dua keluarga yang menjadi motor pergerakan di kampus. Kastrat dengan semangatnya menjadi mercusuar pergerakan mahasiswa, dan pengmas dengan ketulusannya menjadi  pelita bagi masyarakat. Dari awal, saya sudah menaruh harapan besar bahwa suatu saat nanti ke-48 orang ini akan menjadi orang-orang besar dan bermanfaat untuk IKM, masyarakat, dan Indonesia. Dan kenyataannya Tuhan seperti menjawab doa-doa dan harapan saya. Penempaan yang keras dalam keluarga kecil ini, ternyata mampu mendewasakan mereka, mematangkan mereka untuk menjadi agen-agen perubahan bangsa.

Dalam langkah-langkah kecil saya di perjalanan hati ini, keluarga BEM terlalu banyak membuat saya mengagumi kehidupan. Betapa kerasnya kehidupan, betapa indahnya kehidupan. Membuat saya takjub betapa luasnya dunia, betapa ruwetnya masalah sosial dan politik melebihi benang jahit mana pun.

Perjalanan ini pun tidak mudah, layaknya perjalanan menuju puncak gunung. Pasti ada curiga, pasti ada prasangka. Pasti sakit, pasti ada bangkit. Penyembuh itu tiada lain dan tiada bukan adalah keluarga ini sendiri. Kami saling bahu-membahu memperbaiki satu sama lain untuk berdiri kembali, melangkah menuju tujuan kami bersama. Berusaha menapiskan segala jenuh dan lelah yang entah sudah sesering apa menginvasi. Hingga hati ini kuat, sekuat baja untuk bertekad bahwa “Perjalanan ini harus berakhir manis“.

Tiada kata selain syukur kepada Allah SWT karena telah memberikan perjalanan pahit dan manis ini kepada saya dan keluarga BEM. Sungguh tiada ada nikmat-Nya yang mampu saya ingkari. Sebuah perjalanan yang mampu membuat saya lebih bijaksana, dan ingin terus belajar.

Terima kasih kepada Ady dan Imam yang sudah ‘menceburkan’ saya ke dalam kolam perjuangan ini. Terima kasih kepada badan pengurus harian yang telah bergerak bersama-sama. Kita sering berdebat untuk menentukan hal hebat bagi keluarga BEM dan tentu saja IKM. Tapi, percayalah saya menikmati perdebatan itu, perbedaan pendapat yang merupakan manifestasi kepedulian fisik dan mental kita terhadap perwujudan visi kita bersama.

Dan terakhir, terima kasih untuk keluarga kecil saya Pengmas dan Kastrat. Saya terlampau bangga terhadap kalian, semenjak awal kita bertemu. Tetaplah tegakkan kebenaran, senantiasalah berpihak pada rakyat! Jangan pernah berhenti disini. Ukir lebih banyak lagi sejarah, yang bisa kalian ceritakan kelak kepada anak-cucumu. Kalian akan jadi dokter hebat, kalian akan jadi pemimpin kuat.

Sebuah perjalan hati dalam keluarga ini mungkin harus berakhir. Tapi nilai-nilai yang diwariskan senantiasa terpatri di sanubari. Untuk jadi modal melakukan perjalanan hati di tempat lain.

Semoga kebermanfaatan ini, kisah ini, tidak lekang dimakan zaman.

Terima kasih, ya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s