It’s too smooth to live

Dua puluh satu tahun aku hidup, nampaknya cukup untuk bisa menilai seberapa jauh hidupku ini berdeviasi. Bahasa gampangnya: hidupku ini cukup normal atau menyimpang, sih? And so far, I can say it is too smooth to live. Why?

Dari kecil aku lahir dan dididik oleh sebuah keluarga yang cukup mapan, berkecukupan tapi tetap sederhana, dan normal. I’m the eldest children here. Orang tuaku mengajarkan supaya aku bisa berperan sebagai seorang kakak, yang setidaknya harus mau mengalah, meski belum bisa jadi teladan. Semua kenangan indah layaknya anak-anak ’90-an lainnya bisa aku dapatkan: dari mulai nonton Sailormoon, main petak umpet, punya sepatu roda, bermain Sega, hingga jalan-jalan ke Dufan. Kehidupan sosial aku pun juga cukup berwarna. Tidak terhitung jumlahnya teman-teman aku di komplek dan sekolah waktu kecil. Kita sering main karet, masak-masakan, sampe ada adegan marah-marahan ala anak bocah. geli sendiri membayangkannya.

Kehidupan akademis, seolah mengikuti kehidupan sosialku. Semua berjalan selancar jalan Tol. Tidak pernah ada istilah tinggal kelas. Prestasi cukup memuaskan dengan beberapa kali meraih peringkat atas kelas. Tapi itu terjadi seolah-olah tanpa usaha keras. Sunggu bocah kecil yang beruntung.

Hingga akhirnya masuk masa remaja, permasalahan tentu mulai muncul. Tapi entah kenapa nampak tidak berarti. Like I said before, everything happened too smooth in my life. Aku menyenyam pendidikan menengah pertama di Al-Azhar Bintaro. Sekolah Islam yang memiliki sistem pendidikan cukup baik bagi murid-muridnya. Disana, lagi-lagi aku tidak menemukan banyak kesulitan dalam hal akademis. Kehidupan pertemananan seolah berkomplot dengan kehidupan akademisku,  tidak ada kesulitan yang berarti. Kalau jaman SMP itu biasanya teman-teman bikin geng dan bermusuhan antargeng hanya karena masalah sepele. Aku dan teman-temanku yang lain, justru selalu di pihak netral, tidak suka terlibat dalam konflik, menikmati hidup di SMP yang seharusnya: bergosip, nonton bioskop, makan siang bareng, atau main The Sims bareng. Once again, too smooth to live!

Masuklah ke zaman putih-abu2. Yang kata orang, masa-masa terindah bagi pemuda-pemudi. Aku masuk ke salah satu SMA favorit Jakarta, yakni SMAN 70 Jakarta. Sekolah dengan 1001 image: hobi tawuran, hedon, sekolah artis, clubbing, bullying, tapi syukurlah masih ada yang tau kalau di 70 itu kegiatan ekstrakurikulernya cukup diunggulkan, dan prestasi-prestasi akademik siswa-siswanya pun patut diperhitungkan. Patut diapresiasi, berkat image campur-aduk itu input siswa-siswa yang masuk ke 70 pun akhirnya juga beranekaragam. Ada yang pinteer banget, ada yang preman banget, ada yang artis banget, ada yang rohis banget, dan ada yang organisatoris banget. Tidak jauh berbeda dengan kehidupan kuliah.

Untuk masuk 70, aku tidak mendapatkan kesulitan berarti. Meski aku berasal dari SMP luar jakarta, yang notabene kuotanya dibatasi hanya persentase kecil (lupa berapa persen), aku masih bisa masuk dengan mulus berkat nilai UAS (apa UAN?) yang cukup tinggi. Begitu pun menjalani masa-masa di dalamnya. I can adjust myself with them. Bersyukur kepada Allah, prestasi aku cukup baik. Hidupku pun tidak melulu tentang buku. Aku ikut kegiatan palang merah remaja di sekolah dan MPK/OSIS. Dua kegiatan itu membuat hidupku seimbang. I found a lot of great friends and people here.

What about my love story? Bukan, remaja namanya kalau tidak ada bumbu cintanya. Mungkin cukup aku buat kesimpulan dulu bahwa, kehidupanku yang satu ini tidak semulus hidupku yang lain. Terbentrok dengan restu orangtua mungkin. Tapi kalau Allah mengizinkan, mungkin aja sejak TK aku sudah berpacaran. Bagaimana tidak, sejak kecil ada aja bahan becandaan dengan teman-teman tentang teman laki-laki. Dan yang lebih anehnya lagi, obyek becandaan kita memang nampak memiliki tendensi obviously mendekatiku dengan cara yang unik dan aneh (I can’t stop laughing while writing this)

Still it was as sweet as sugar. Bisa dikatakan, menjalin hubungan serius saat SMA. Bisa dikatakan juga, it was like dream come true. Bayangkan sinetron-sinetron Indonesia yang pemeran wanitanya jatuh cinta dengan pemeran pria yang cukup ia idolakan, tapi ia sadar bahwa idolanya juga jadi idola wanita-wanita lain. Lalu keajaiban terjadi dan taraaa.. the prince charming is coming to the girl. He’s a very good man indeed, sepanjang yang aku tahu, bahkan hingga saat ini. Sayangnya, bumi terus berputar dan kedewasaan masing-masing kita membuat kita sadar that we can’t be as one.

Berlanjut ke jenjang kehidupan berikutnya: Kuliah. Inilah mungkin puncak aku merasa bahwa hidupku terlalu mulus. Aku masuk ke fakultas kedokteran UI tanpa ujian, dulu masih disebut dengan PPKB/PMDK. I said it was a miracle. Ketika duduk di bangku kuliah pun, semua berjalan baik-baik saja. Dari aspek akademis, non-akademis semua tiba sesuai dengan yang aku harapkan.

Above them all, dibalik itu semua bukan kesombongan yang ingin aku tunjukkan. Hina sekali tubuh ini masih bisa menyombong padahal masih ada kekuatan yang lebih besar daripada kata “beruntung” itu sendiri. Terkadang kita khilaf menilai bahwa hidup kita terlalu “normal” sehingga merasa tidak ada yang perlu disyukuri kepada-Nya. Atau merasa sangat menderita dalam hidup, sehingga mengeluh atau marah terhadap takdir-Nya. I keep telling myself, everything happens for reasons (at least one reason). Dan aku yakin, “reason” disini adalah rencana yang lebih besar dari-Nya.

My life is too smooth to live. Tapi entah 10 tahun, 1 tahun, 1 minggu lagi, atau besok kalimat itu masih bisa aku ucapkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s