Negeri yang Belum Siap (?)

— Sebuah renungan malam, yang idenya muncul setelah membaca sebuah surat kabar nasional—
 
 

Let’s say, Indonesia itu adalah manusia. Sudah berusia hampir 67 tahun, tentu rambut sudah memutih, sakit-sakitan, berjalan tertatih-tatih, pikun, tapi senantiasa bijak karena telah mengecap banyak asam garam kehidupan. dan ternyata, Indonesia memang berjalan masih tertatih-tatih untuk mewujudkan kesejahteraan bangsanya. Tapi, itu “masih”, bukan “sudah”. Karena sampai sekarang, sejarah belum pernah mencatat Indonesia mampu mencapai rekor warga negara sejahtera. Kita selalu dibayangi penindasan, hingga sekarang. Pikun? ya, bangsa kita seolah tidak kapok karena pengalaman, karena lupa sejarah rupanya. Bung Karno tentu sangat sedih jika melihat realita ini, “Jas Merah” yang beliau gadang-gadang kurang “laku keras”. Bijaksana? coba lihat perkelahian yang mewabah dari mulai tingkatan atas hingga lapisan bawah masyarakat bisa kita saksikan di layar televisi hanya masalah konflik sepele. Lengkap sudah, gambaran “bayi” usia 66 tahun 11 bulan yang bernama Indonesia.

Pernah satu waktu, saya mendengar seorang kawan menyeletuk, ” Emang Indonesia tuh, ga cocok pake sistem demokrasi. Orang-orangnya belom siap. Dikasih kebebasan dikit, kebablasan. Demo berujung tawuran, media massa kelewatan beritanya. Mending pake otoriter aja, adem ayem dah!”. Sontak, entah kenapa, saya mengiyakan pendapat teman saya itu. Kontradiktif dengan idealisme yang diajarkan kepada saya selama ini. “Bener juga, kalo otoriter, setidaknya kayak jama orde baru pasti semuanya terkontrol dengan baik. Bodo amat di atas-atas ada korupsi apaan”, dalam hati saya.

Rakyat Indonesia memang paling hobi yang namanya euforia. Coba aja, pas musim piala dunia, cewek-cewek yang biasa nonton gosip, jadi ikutan begadang nonton bola dan beli baju timnas idola mereka. Sewaktu bulan puasa, sinetron-sinetron tiba-tiba artisnya jadi pake kerudung, padahal ceritanya ga ada islaminya sama sekali. Edisi Ramadhan katanya. Setelah lebaran, ya lepas semua, bahkan hampir terlihat lepas baju juga (saking auratnya terbuka). Yang lebih makro lagi, euforia demokrasi. Rakyat Indonesia berpesta terlepas dari belenggu orde baru rezim Soeharto. Semuanya mencium kebebasan dengan bahagia. Tapi, ternyata Indonesia tidak sesiap itu untuk menjadi bebas.

Soeharto memang jatuh, tapi kroni-kroninya masih banyak yang tertinggal dan jadi bandit-bandit menularkan “penyakit” KKN, merambah ke tiap tingkatan pemerintahan. Penderitaan terus bertambah karena utang luar negeri semakin besar. Pinjaman kepada IMF, membuat kita harus menerapkan pasar bebas. Sebuah syarat yang tidak banyak diketahui orang banyak. Akibatnya, negara sedikit-demi sedikit melepaskan tanggung jawabnya sebagai penyedia public goods. Ambil contoh sederhana saja: pendidikan. Banyak pihak menuding UU Perguruan Tinggi adalah bentuk alih tanggung-jawab dari pemerintah kepada pasar. Sebelum ada UU PT pun sudah terasa pendidikan semakin mahal. Argumentasi lugu mungkin menyebutkan karena harga kebutuhan pokok semakin mahal, jadi pendidikan akan mahal juga. Argumentasi cerdas menyebutkan, itu adalah bentuk liberalisasi pendidikan dalam rangka memenuhi syarat IMF. Tricky, huh?

Yang lebih menarik lagi, sistem pasar juga diterapkan dalam perpolitikan Indonesia. Coba lihat sistem multipartai, buat apa? otonomi daerah, yakin itu sebatas karena nilai demokrasi? Pada era reformasi, praktik korupsi ternyata tidak hilang, tapi hanya “berpindah” dari pusat kekuasaan dan birokrasi ke parlemen. Politisi dan partai seolah menjual produk mereka (janji-janji mereka kali ya) pada saat pemilu dan para pemilih adalah pembelinya. Karena ini pasar, maka ketika sudah terpilih, politisi & partai akan merasa telah selesai tugasnya. Mana ada penjual di pasar yang memikirkan nasib pembelinya setelah barang-barangnya terjual. Ya, mengerutkan keninglah.

Kembali ke analogi Indonesia sebagai sosok manula. Indonesia kerap sakit-sakitan katanya. Untuk yang satu ini saya sangat sepakat. oleh karena sekarang sedang musim Olimpiade 2012, saya akan mengambil contoh nilai-nilai yang terkandung dalam olahraga. Olahraga memiliki 3 semangat utama: sportivitas, persahabatan, dan kompetisi. Adakah diantara nilai-nilai tersebut yang dapat kita lihat pada pemimpin kita sekarang? Mungkin hanya kompetisi, berkompetisi untuk menyedot perhatian publik, dengan segala berita miringnya. berkompetisi mendapatkan suara pemilih sebanyak-banyaknya. Berkompetisi mendulang kekayaan sebesar-besarnya. Bagaimana dengan sportivitas? Coba saja, mereka yang kalah pemilihan, malah menjelek-jelekkan pihak lawan atau menghasut massa untuk membakar gedung pemerintahan yang dibangun dengan uang rakyat. Bukannya menerima dengan ikhlas dan berusaha untuk bangkit lagi menjadi lebih baik. Sangat kontras dengan pemandangan dua tim sepakbola yang bersalaman setelah permainan usai, siapa pun yang menang, mereka tetap tegar tidak saling tonjok (kecuali di Indonesia). Jiwa sportivitas juga dikhianati ketika kecurangan banyak terjadi bukan hanya di politik, tapi juga di ranah kesehatan, pendidikan, dan bidang lainnya. Manipulasi nilai siswa oleh guru-guru ‘nakal’ serta petugas kesehatan yang ‘mendagangkan’ pasiennya demi mendapat tiket ke luar negeri dari perusahaan farmasi. Nampaknya jelas sekali masyarakat Indonesia kurang olahraga sehingga ‘sakit-sakitan’.

Lalu, Indonesia ini makhluk yang sudah terlalu tua karena sering ‘sakit’ atau justru masih bayi karena masih belum siap menjalani reformasi? Well, mau tua atau muda, I believe that this nation still has remaining years ahead to live!

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s