Refleksi Tengah Malam

Meski gabut, tapi ga bisa dipungkiri bahwa program kunjungan ini sangat bermanfaat!

Pengamatan Cultural Competence pada Puskesmas Kelurahan Kramat, Senen dan RSKO Jakarta

Oleh Beladenta Amalia, 0906487713

Selama hampir satu minggu lamanya, saya dan kesembilan teman sekelompok mendapatkan kesempatan untuk mengobservasi Puskesmas Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Di puskemas ini kami dibimbing oleh seorang fasilitator untuk mengamati segala aspek yang menjadi fokus dokter keluarga dan komunitas. Salah satunya adalah melihat interaksi dokter-pasien dan pelayanan puskesmas sebagai penyelenggara program kesehatan untuk warga Kelurahan Kramat.

Pada hari pertama, ketika pertama kali mendatangi puskesmas tersebut, saya cukup dibuat heran dengan banyaknya sandal dan sepatu di depan pintu masuk puskesmas. Ternyata, sandal dan sepatu itu adalah milik para pasien pengunjung puskesmas yang dilepas karena pihak puskesmas membuat kebijakan bagi pasien untuk melepas alas kaki mereka untuk dapat masuk. Padahal halaman dan kondisi jalan di sekitar puskesmas tidak becek ataupun kotor. Sehingga, kemungkinan alas kaki mereka untuk mengotori lantai puskesmas sangat kecil.

Saya sempat mengira bahwa kebijakan seperti ini hanya mungkin dibuat untuk puskesmas di pedesaan, bukan di lingkungan urban seperti Kelurahan Kramat. Karena menurut asumsi saya, masyarakat perkotaan lebih memiliki kesadaran yang besar untuk membersihkan alas kakinya, ditambah kondisi tanah yang sudah beraspal. Namun ternyata di puskesmas ini, tetap menerapkan kebijakan demikian. Sehingga akibatnya, dari tampak depan, puskesmas ini kurang sedap dipandang karena adanya tumpukan alas kaki yang tidak tersusun rapi. Pada akhir kunjungan, kami sekelompok berinisiatif memberikan rak sepatu supaya pasien bisa menaruk alas kakinya disitu.

Dan yang lebih anehnya lagi, para staf, termasuk dokter puskemas, lebih banyak yang terlihat tetap memakai sepatu di dalam ruangan. Meskipun jenis sepatu yang mereka gunakan berbeda (jenis sepatu & sendal khusus untuk di dalam ruangan), ini menunjukkan para pekerja puskesmas belum bisa menempatkan dirinya sejajar dengan pasien. Kami sebagai tamu pun, rela melepas sepatu demi menghargai pasien-pasien.

Menurut saya, meskipun kebijakan ini tidak banyak mendapat keluhan dari pasien, namun ada baiknya pihak puskesmas tidak mendiskriminasi pasien dan staff. Berdasarkan pengamatan saya, alas kaki pasien pengunjung puskesmas tidak begitu kotor untuk menimbulkan efek buruk pada lantai puskesmas. Akan lebih baik apabila pihak puskesmas cukup menyediakan keset di depan pintu, dan tidak perlu meminta pasien untuk melepas sepatunya.

Pengamatan kami berlanjut ke dalam kamar periksa. Disana kami mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana cara dokter menangani pasien, dari mulai anamnesis hingga pemeriksaan lain yang dilakukan. Hampir semua yang kami amati tidak ada tindakan medis yang dilakukan oleh dokter. Hal ini diakibatkan banyaknya jumlah pasien dan jumlah dokter hanya 1 orang (dibantu 1 orang perawat) sehingga dokter pun hanya melakukan pemeriksaan fisik seadanya. Dari cara komunikasi dengan pasien, terlihat bahwa dokter lebih banyak mengajukan pertanyaan tertutup, dengan pertimbangan efisiensi waktu. Tidak ada refleksi perasaan yang diungkapkan oleh dokter. Ada satu orang pasien wanita, berusia lanjut yang memiliki pendengaran kurang. Ia memiliki keluhan gatal kulit. Dokter kebetulan sedang memakai masker. Terlihat bahwa, sang ibu kurang bisa mendengar ucapan dokter, karena suara dokter yang memang pelan dan ditambah dengan masker yang menutupi mulut dokter, sehingga pasien semakin sulit membaca perkataan dokter. Dokter pun, menjadi agak kesal, dan tiba-tiba meninggikan suaranya dengan nada sedikit membentak. Hal yang membuat saya cukup kaget. Saya berusaha memahami perasaan dokter yang kesal dan lelah karena sudah menangani banyak pasien, tapi tindakannya membentak pasien tetap tidak bisa dibenarkan. Dokter memang harus senantiasa bersabar dan dituntut memahami keterbatasan yang dimiliki pasien, bagaimana pun keadaannya.

Tidak begitu banyak gambaran kompetensi kultural yang dapat saya lihat di puskesmas. Hal ini mungkin saja diakibatkan kondisi sosial urban yang membuat pasien memiliki budaya yang tidak jauh berbeda dengan tenaga kesehatannya.

Selain di puskesmas, saya dan teman-teman juga melakukan observasi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta. Tujuan kami kesana bukanlah untuk melihat interaksi sosial antara tenaga kesehatan dengan pasien. Melainkan melihat dukungan perusahaan (dalam hal ini rumah sakit) dalam mewujudkan kesehatan dan keselamatan kerja pada staf-stafnya dan berbagai program yang berkaitan dengan tema kelompok kami, yaitu NAPZA (Plant Survey). Namun ternyata kami mendapatkan lebih banyak dari itu.

Seperti yang kita tahu, RSKO memiliki pelayanan kesehatan khusus bagi para pengguna NAPZA. Bukan hanya kuratif tapi juga preventif, promotif, dan juga rehabilitatif. Yang menarik pada kunjungan kami kemarin adalah observasi pada pelayanan rehabilitatif RSKO. Pasien-pasien mantan pengguna NAPZA yang masuk rehabilitasi disebut dengan “residen”, alih-alih “pasien”. Sebuah penamanaan yang terlihat biasa, tapi menurut saya cukup unik. Karena dengan begitu artinya rumah sakit telah berusaha menyingkirkan label sakit bagi pasien, tapi cukup penghuni panti rehabilitasi yang terdengar lebih bersahabat dibandingkan “pasien”. Label ini tentu sedikit banyak membantu proses penyembuhan pasien.

Selain itu, pendekatan yang dilakukan pihak rumah sakit adalah mengutamakan kenyamanan pasien. Tidak tanggung-tanggung mereka memperkerjakan beberapa konselor sebagai terapis residen, yang merupakan mantan pengguna NAPZA. Konselor ini tentu lebih memahami segala seluk-beluk kesulitan yang dialami oleh residen, dibandingkan petugas kesehatan lainnya, berkat pengalamann yang sudah ia dapatkan. Keahlian ini akan dimanfaatkan oleh konselor untuk lebih berempati dan memahami budaya pengguna NAPZA dan pola pikir yang bisa menjadi hambatan residen dalam menjalani terapi. Sudah bukan rahasia lagi bahwa pengguna NAPZA pasti memiliki budaya di komunitas sosialnya sendiri, yang lebih banyak membawa stigma negatif dalam masyarakat kebanyakan.

Pengalaman terjun ke lapangan dalam modul IKK ini sungguh banyak memberikan saya pelajaran. Hal yang paling penting adalah, sebagai dokter harus mampu melihat dari berbagai sudut pandang aspek, selain aspek medis. Serta jangan pernah menganggap budaya atau pun nilai yang dianut pasien adalah sesuatu yang inferior.

Actually, ini ga terlalu ngena buat analisis cultural competence nya. Dan makin penasaran jadinya buat liat yang di desa, pasti kesenjangan budaya dokter sama pasiennya lebih besar. Anyhow, memang sebuah keniscayaan dokter harus lebih banyak belajar kompetensi budaya, kalo mau bangsa ini makin sejahtera. Semoga gak omdo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s