Belajar Seumur Hidup

Judul di atas adalah sebuah jargon yang selalu ditanamkan kepadaku, dan para calon dokter lainnya semenjak menginjakkan kaki di fakultas kedokteran. Bangga? boleh, tapi ternyata itu hanya permulaan. Kami dituntut untuk selalu belajar bukan hanya dari buku dan pasien. Tapi juga keluarga pasien, budaya setempat, perilaku masyarakat, kebijakan kesehatan, bahkan hukum atau norma yang berlaku. berat.

Ini baru aku rasakan ketika memasuki modul yang paling beda dari modul yang pernah saya jalani sebelumnya selama menjadi mahasiswa, yaitu Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK). Disini kami diajarkan untuk melihat pasien secara holistik. Benar-benar holistik! Aku sampai tidak heran kalau banyak masyarakat yang menganggap dokter sebagai pamong desa, serba tahu akan masalah komunitas setempat. Yah well, karena masyarakat sangat dinamis dan pastinya masalah di masyarakat tiada matinya, tentu tugas dokter tidak hanya sampai menyembuhkan orang yang sakit saja, tapi terus hingga masyarakat sehat dan pandai untuk menjaga kesehatan. Duh, inilah yang membuat dokter tidak akan habisnya untuk belajar! (kecuali dunia berakhir)

Masalahnya aku bukan mahasiswa yang ingin menjadi dokter berjas putih duduk di kursi empuk di ruangan ber-AC yang memeriksa per pasien hanya maksimal 5 menit, diagnosis (asal) tegak, kasih resep mahal, beres, pulang dengan mobil mengkilap ke rumah mewah. Tidak sehedonis itu. Akan lebih bermanfaat jika aku praktik di puskesmas apung (thx to dr.Arya yang memutar video Puskesmas Apung untuk mahasiswa :)) di pedalaman kalimantan atau tepi laut kepulauan Maluku! Begitu indah membayangkan betapa diri ini bisa bermanfaat banyak bagi masyarakat Indonesia. Tentu dapat belajar banyak mengenai kearifan lokal disana 🙂

yah well intinya aku mulai merasakan bahwa tugas mulia ini terasa berat. Sebentar lagi aku akan memasuki tahap klinik, yang which is untuk memasukinya perlu menjalani ujian OSCE Keterampilan Klinik Dasar (KKD) di awal agustus nanti. Bahannya setumpuk, tidak hanya untuk dihafal tapi juga dipahami. And let me remind you, people! Medicine is an art! ga ada yang pasti di dunia medis, setiap dokter punya preferensi sendiri-sendiri dalam menangani kasus, inilah yang akan jadi tantanganku ketika menghadapi ujian nanti.

Oke, once again ini belom ada apa-apanya kalau mengingat proses belajar sebagai seorang dokter yang akan tiada habisnya. bukan hanya 1 tahun, 10 tahun, tapi mungkin 20 tahun lagi hingga jantung ini tidak kuat memompa darah. For God Sake! I want to be a good doctor not for myself or my family, but for humanity and people.

Bismillah, semoga dikuatkan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s