Ternyata Pepatah itu Tidak Pernah Membual

Penyesalan terbesar dalam hidupku: Mengambil risiko tanpa memikirkannya masak-masak terlebih dahulu.

Entah apa yang terjadi, apakah kemampuan berpikirku untuk menimbang2 mana yang baik dan mana yang buruk masih kurang atau emosiku yang masih cenderung mendominasi, tapi yang jelas aku sungguh MENYESAL membohongi diriku dan dia selama ini. ya Tuhan, maafkanlah aku yang telah khilaf!

Bagaimana harus berhenti mempermainkan perasaan orang, walau sama sekali tidak ada maksud untuk mempermainkannya. Sama sekali pun aku tak punya ‘daya tarik’ untuk bisa mempermainkan orang. tapi ya Tuhaaan, kenapa harus dia yang terpermainkaan!

Aku bahkan merasa hina karena baru menyadarinya perasaan ini sekarang. Sungguh, aku tidak pandai untuk berkata2, merangkai kata untuk memaparkan segala apa yang mengganjal di hati ini untuknya. Salah2 kata2, bisa2 dia yang hatinya sakit. Lalu, bagaimana cara mengungkapkannya?

Aku bahkan merasa lebih hina karena telah memberinya angan2 kosong! aku sendiri ternyata yang memulainya! disaat ia sudah akan menjauh! Bahkan aku menuliskan angan2 itu pada tulisan2 sebelumnya. Sebegitu labil-nya kah aku?

Rasanya ingin ku cabik2 otak ini, meratapi betapa dungunya aku kemarin sampai sekarang. Dan aku juga ingin meminjam jumper milik hayden christensen untuk membawaku ke ujung dunia bersama beruang kutub, daripada bersamanya penuh dengan kebosanan dan rasa bersalah yang teramat sangat.

Aku yang memulai, maka aku yang harus mengakhiri. Lihat saja nanti 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s