Persimpangan Jalan

The phone-call that nite, really woke me up! Yang tadinya sistem sensorikku belum sepenuhnya teratifkan begitu mendengar ceritamu, jantungku berdetak lebih kencang dan otakku siap-siap berpikir keras.

Berita yang seharusnya menyenangkan bagimu, justru membuatmu gundah gulana. Pengumuman itu ternyata tidak menyelesaikan kegusaranmu selama ini. Yang awalnya cita-cita pasti, mengapa sekarang malah terlihat semu begini? keraguan yang kamu ceritakan, juga mulai membuatku ragu. dan takut.

Aku takut, kau terjebak pada masa lalumu. Aku takut, kamu mendapatkan kesulitan yang tidak bisa kau sendiri atasi. Aku takut, ditempatmu yang baru kamu tidak bisa merasa nyaman. Aku juga takut, kau terjebak pada cita-citamu sendiri. Dan yang paling aku takutkan, aku takut kamu jauh šŸ˜¦ Aku terhenyuk ketika menyadari betapa egoisnya aku. Ah, buang itu, Bel! Dia berhak atas kehidupannya sendiri.

Hidup ini penuh pilihan, begitu juga hidupmu. Ketika kau berjalan di jalan yang lurus, berharap matahari yang kau tuju ada di ujung jalan di depanmu, tiba-tiba tibalah kamu dipersimpangan jalan. Seharusnya kamu tidak ragu untuk tetap berjalan lurus. Namun, entah mengapa jalan yang satu lagi menampakkan cahaya yang lebih terang. Kamu mulai berhenti, ragu. Jalan yang satu lagi terlihat lebih menjanjikan. Namun, Kamu teringat kalau ternyata Ā pernah melewati jalan itu, dan jalannya terjal, penuh pecahan kaca tajam. Kakimu sudah penuh luka nanah. “Ah, aku tidak akan mau melewatinya lagi!”, serumu. Tapi, belum sempat kau melangkahkan kaki lagi, suara itu bergaung di kepalamu. Suara, sahabat-sahabatmu. Canda, tawa itu tidak akan pernah bisa kau lupakan. Bahkan aroma baju mereka pun, masih kau ingat. Aroma yang bisa membuatmu melayang hingga tidak perlu menapaki jalan yang berduri tadi. Ahh, sungguh itu membuatmu kembali termenung. Ragu. Akankah kamu bisa kembali ke jalan itu tanpa menambah goresan di kakimu lagi? “Belum tentu”, pikirmu.

Sedangkan, aku yang ikut termenung mendengar ceritamu, juga bingung untuk berdiri di jalan yang mana. Sesungguhnya aku lebih suka di jalanmu yang lurus. Aku tidak suka berjalan di atas duri-duri, pecahan kaca. Jadi aku awalnya sudah siap menyambutmu dengan kedua tangan ini, berharap kau lepas landas bukan belok ke jalan yang pernah kau lewati sebelumnya. Tapi, pandanganmu nanar ke arah jalan itu. Aku jadi berusaha ingin tahu, kemanakah jalan itu akan membawamu? Akankah sinar terang itu lebih menarik perhatianmu ketimbang aku? Aku memang tidak secerah mereka. Aku memang suram, hanya bercahaya sesekali. Tapi yakinlah, aku bisa bercahaya lebih terang jika kau berada di dekatku. Namun, tetap saja kau memandangi jalan itu. Ah aku juga ikut tidak tahan, ingin menarikmu ke sini! Tapi aku ingat, bahwa aku tidak sekuat itu untuk menarikmu. Hmm, aku mencari akal, memutar otak, aha! Kalau begitu, aku akan mencari sepatu dulu, sepatu yang anti benda tajam, untukku pakai bersamamu selama menapaki jalan itu, jalan yang masih kau pandangi sampai sekarang. Yap! Sekarang aku berhasil berjalan di depanmu, di jalan berduri. Haha, tidak terasa perih sama sekali! Aku merasa sangat berhasil saat itu. Aku memanggilmu, melambaikan tangan. HEI! kenapa kau malah mengalihkan perhatianmu? Kamu sekarang justru tersenyum melihat jalan lurus itu. Sekarang apa? kamu seolah berkhianat. Ingin ku lepas sepatu ini, tapi talinya ternyata begitu rumit, simpulnya tidak sederhana.

Saat itu, yang aku khawatirkan bukanlah kakiku. Tapi, kamu. Aku menuju ke persimpangan jalan itu, meraih tanganmu. Ikut memandang kedua jalan itu. Kamu melihat aku, aku tersenyum, bercahaya. Kamu pun tersenyum, namun matamu tetap merefleksikan keraguan. Biarlah. Berapa pun lamanya kau berhenti di sini, di persimpangan ini, aku juga akan tetap di sini. Sampai keraguan itu hilang, dan kau berhasil melangkah šŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s