” Ini demi kebaikan kalian, Dek!”

Setahun yang lalu, ketika aku masih merupakan sesosok maba polos, pekikan-pekikan itu sering memenuhi ruang di kepalaku. Sampai muak rasanya, mendengar ucapan-ucapan itu yang keluar dari mulut senior. Apa-apaan?! menurut mereka berlari-lari di sepanjang koridor sempit nan asing dari satu ruangan ke ruangan lainnya itu demi kebaikan kami? tidakkah mereka sadar betapa lelahnya kami berkutat semalaman sampai mengorbankan waktu tidur malam untuk mengerjakan tugas-tugas segunung?? Bahkan kami tidak tahu apakah tugas-tugas ini diberikan kepada kami supaya diselesaikan atau hanya untuk menyita waktu dan menguras otak kami?? Tuhaan, rasanya tugas itu tiada ujungnyaaaa! Presiden pun belum tentu bisa menyelesaikan semuanya tanpa bantuan para ajudan-ajudan beliau!! Mereka sih enak saja, membentak-bentak, murka di saat sidang. Berteriak-teriak di depan muka kami! Toh bukan mereka yang mengerjakan tugas itu, kan!! Belum lagi di saat sesi seminar, yang saya pikir seharusnya menjadi sesi santai, juga tidak kalah terasa bagai ‘neraka’ karena punggung kami sakit menahan beban tubuh, akibat tuntutan mereka untuk duduk ergonomis. ‘ Kalau badan kalian bungkuk, yang kasian punggung kalian, dek!’ jelas mereka. ‘Halah!’ pikirku, ‘Dasar senior, ada saja alasan untuk membenarkan kesemena-menaan tindakan mereka kepada juniornya!’. Kalau punggung sakit karena selalu duduk tegak kan tidak baik juga! Belum lagi ‘serangan’ rasa kantuk saat menonton petinggi fakultas bercuap-cuap di depan saat memberikan materi seminar. Huaaah, mata rasanya ingin memejam, menikmati sejuknya AC aula sekedar 5-10 detik saja. Tapi, huh, mereka para manusia ber-nametag “Panitia” itu tidak pernah berhenti berpatroli mengelilingi kami. Ketahuan ada yang terpejam matanya, ditegur, ketahuan lagi, di catat nama kita. Ya, DICATAT!!!! Dicatat sebagai bahan evaluasi! Habislah kami! Huh, memang siapa mereka?! Malaikat Atid?! Sungguh tidak berperikemanusiaan!! Aku tambah geram! Dan begitulah kehidupan kami, para maba, selama 2 hari yang serasa 1 tahun, selalu dirundung kecemasan, diselimuti aura kesalahan, mata tidak bisa terpejam dan telinga ingin rasanya disumpal dengan tutup odol supaya suara-suara itu tidak melulu keluar masuk kepala.

Sekarang, aku duduk di sini. Menulis hmm well pengakuan akan kebodohan dan kedangkalan aku setahun yang lalu. Ya, baru saja 26 jam yang lalu kami berpelukan merayakan suksesnya pelaksanaan psaf. ‘Kami’ disini bukanlah maba lagi, tapi panitia. Ya panitia, sosok yang sangat aku benci setahun yang lalu.

Seperti menjilat ludah sendiri, aku yang saat itu memainkan peran sebagai senior, sangat menikmati indahnya psaf. Bukan karena aku bebas berteriak-berteriak dan bisa ‘balas dendam’ kepada maba. Melainkan, karena aku menemukan sisi lain dari acara orientasi yang sangat jauh dari perploncoan ini.

Tahukah kalian,maba, bahwa panitia sungguh membuat acara psaf bukan tanpa alasan?  Satu-satunya alasannya adalah KALIAN. ya, kalian lah para penerus perjuangan kami di kampus perjuangan ini. Wajah-wajah muda kalian, yang penuh semangat nan polos, pemikiran segar kalian yang selalu ingin tahu hal-hal baru sampai-sampai mata kalian tidak berhenti melirik kanan-kiri meski sudah kami perintahkan kalian untuk tetap memfokuskan pandangan kalian ke depan, bahkan menunduk. Kalian sungguh berharga, bukan anak manusia biasa. Kedokteran.  Jangan pernah kata itu cepat membuat kalian lengah, wahai maba. Keberhasilan kalian sampai di sini, perguruan yang kata orang-orang paling baik di Indonesia, jangan cepat membuat kalian ria . Itu hanyalah awal dari segalanya. Gelar ‘Mahasiswa’ lah yang seharusnya membuat kalian bangga dan tertantang. Tertantang untuk bersikap lebih dewasa dan tertantang untuk melihat sesuatu tidak hanya dari satu sisi.

Kami, kakak-kakak kalian, berusaha menyiapkan yang terbaik dengan cara yang terbaik. Tahukah kalian, persiapan ini memakan waktu tidak lebih dari 3 bulan. Ya, tiga bulan! Aku sampai tidak tega melihat teman-teman panitia yang lain bersua dengan ruangan senat ditemani laptop sampai malam larut. Aku sampai menganga melihat mereka rajin mengampus padahal kampus sudah libur. Sirnalah sudah liburan ke sana, hilanglah sudah rencana mengunjungi sanak saudara di sana, dan oh ya aku sampai lupa sudah tidak pulang ke rumah hmmm berapa hari ya? Dekanat juga sering ‘iseng’ menanyakan kenapa-maba-harus-diberi-tugas-ini dan kenapa-jadwalnya-harus-begitu-?. Yah, lagi-lagi juklak-nya harus diganti. Kami tetap bersemangat walaupun pusing memikirkan perubahan rencana H-1, wow!

Tahukah kalian, bahwa tidak ada satu agenda pun, bahkan satu gerakan kalian yang kami rencanakan tanpa adanya esensi? tanpa adanya ‘pelajaran yang tersembunyi’? Aku sampai tidak percaya, kami benar-benar merencanakan ini dengan sempurna. Tensi, tingkatan tekanan untuk maba, benar-benar dipikirkan masak-masak. Jangan sampai tensi itu menurunkan mental kalian. Jangan sampai kalian stress di bulan puasa ini, apalagi sakit. Selalu ada perdebatan, si A dari seksi A berkata, “Tidak mungkin mereka bisa bergerak cepat kalau tensinya kita peringan! Sudahlah, tidak usah pedulikan bulan puasa ini”. Si B dari seksi B berkata, “Tidak mungkin, kalian sebagai panitia tentu akan kelelahan. Selain itu, kita bisa mencapai esensi yang dibutuhkan tanpa harus memberikan tekanan yang terlalu tinggi”. Yah, perdebatan demikalian, para maba.

Aturan juga dibuat. Kami sebagai panitia tidak bekerja sendirian. Ada pihak pengawas yang memastikan kami tidak melanggar aturan. Komisi disiplin namanya. Kalau kalian punya sidang, kami juga ada. Mereka, komdis, juga tidak tanggung-tanggung menuntut kami bila terbukti melanggar aturan. Lihatlah, maba. Kalian sangat kami lindungi! Tugas-tugas yang kami berikan, bukanlah untuk main-main. Oh yakinlah, setiap goresan pena yang kalian buat di atas kertas, benar-benar telah kami goreskan juga. Kami juga membuat tugas seperti kalian sebelum kami melimpahkannya kepada kalian. Untuk memastikan layak dan mampu kalian kerjakan. See? Jalan di depan masih berliku. Dokter. Pernahkah kalian membayangkan rasanya menyandang nama itu? Bukan hal yang mudah, percayalah. Tekanan lebih berat, tuntutan lebih banyak! jangan pernah melihat sosok dokter-dokter yang sudah bermobil mewah, berpenampilan necis, dan berumah banyak. Di balik itu, terdapat peluh mengucur dan jiwa pengabdian pada masyarakat yang amat besar. Dan itu tidak bisa muncul begitu saja. Kamilah yang bisa kalian andalkan untuk memunculkan itu semua.

Setiap detik sampai acara berakhir, kami terus memikirkan kalian. Ya Tuhan, buatlah mereka kuat! Dan janganlah buat mereka berpikir macam-macam tentang kami. Sungguh tangan dan kaki ini bergerak hanya untuk mereka. Betapa bangganya ketika mereka bisa bersatu dan bersemangat menjadi satu angkatan. Ayo, jangan pernah berhenti berjuang. Lagi-lagi ini hanyalah awal.  Mantapkan hati kalian, genggam erat tangan kami, teman sejawat kalian untuk berangkat menuju kesuksesan. Dan kalian pun akan sadar, bahwa bentakan di koridor itu, yang kalian dengar kemarin, adalah benar-benar demi kebaikan kalian.

Advertisements

One comment

  1. Adinda Sukma Novelia · January 9, 2011

    mbak, saya speechlesss dengernya.. merinding bacanya..
    saya maba :’)
    dan menunggu detik-detik menjadi panitia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s