“Pengen buang sampah aja susah banget, ya cyin!”

Itu adalah hal pertama yang tercetus di pikiranku waktu awal-awal tiba di Barcelona. Bukan, bukan karena susah cari tempat sampah.  Justru karena terlalu banyak pilihan, jadi makin sulit memutuskan mana yang paling tepat…layaknya memilih jodoh *krik*

So, awal-awal hidup disini, saya cukup disibukkan belajar memilah-milah jenis sampah. Motivasi utamanya, sih, biar ngga malu sama teman satu apartemen yang cukup disiplin dan rapih. Dia orang Polandia yang sangat concern terhadap kelestarian lingkungan dan hidup sehat. Sekali dia memberikan kuliah panjang lebar kepadaku tentang apa saja jenis-jenis sampah dan mesti di buang ke tempat sampah yang mana. Aku cukup meremehkan, “Ah, perkara gampang! Sampah doang ini. Kalo, salah tempat buang sampahnya, ayam tetangga ngga bakal mati.”

Lalu, bisa ditebak selanjutnya yang terjadi. Aku beberapa kali salah buang sampah di rumah. Sampah plastik, ngga sengaja aku masukin ke tempat sampah umum (general waste), atau beberapa kali ke tempat sampah organik. Yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tak pernah aku duga: teman aku ini memungut kembali sampah yang aku buang, lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah yang seharusnya! Aku malu banget ketika tahu itu. Ngga bisa begini! Ini bukan hanya perkara ayam tetangga mati, tapi nama bangsa Indonesia bisa tercoreng gara-gara tingkah laku aku yang teledor meremehkan sampah! (ceilah) Jadilah sejak saat itu aku benar-benar teliti memilah sampah di rumah.

Tak tanggung-tanggung kota Barcelona punya LIMA macam container sampah untuk LIMA jenis sampah yang ada di hampir setiap pinggir jalan dan pengkolan kota ini. Hmmm….sebenernya lebih, sih, tapi mari mulai dengan 5 jenis dulu:

Container warna Kuning untuk sampah plastik dan karton (contoh: botol plastik, kantong plastik, alumunium foil, polystyrene trays, cling film, karton, dll. KECUALI: videotapes, CDs, dan kemasan lain bekas produk-produk berbahaya seperti cat)

Container warna Hijau untuk sampah berbahan kaca (contoh: botol kaca. KECUALI: pecahan kaca, cermin, pecahan keramik, bohlam lampu, dll)

Container warna Biru untuk sampah kertas dan cardboard (contoh: koran bekas, paper bags, dus, dll. KECUALI: kertas atau material kotor seperti paper napkins atau paper towel yang sudah kotor.)

Container warna Cokelat untuk sampah organik (contoh: makanan sisa, sayur-sayuran, daging, cangkang telur, ampas kopi, paper napkins kotor, dll. KECUALI: diapers, rambut, kotoran hewan, dll)

Container warna Abu-abu untuk sampah lainnya (contoh: puntung rokok, diapers, pensil/pulpen bekas, sweeping debris, kotoran hewan, dll)

Image result for waste management barcelona

Tempat pembuangan sampah rumah tangga yang tersebar di penjuru kota Barcelona. Sumber foto: http://www.barcelona.cat/en/living-in-bcn/environment-and-sustainability

Lalu, kemana perginya sampah-sampah dengan bahan berbahaya seperti CDs, baterai, dan bohlam lampu? Sampah-sampai ini bisa diungsikan ke “Green Dots” yang terletak di lokasi-lokasi tertentu di Barcelona. Lokasinya bisa dicari di situs pencarian online!

Selain tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, Barcelona juga punya beberapa layanan untuk sampah atau benda yang sudah tidak terpakai lagi. Seperti program “Roba Amiga” yang menerima baju, tas, dan sepatu bekas yang masih layak pakai untuk diproses dan kemudian dijual lagi ke masyarakat. Lalu, ada juga layanan pemungutan sampah “door-to-door” untuk mereka yang memiliki disabilitas.

Nah, karena tempat pembuangan sampah rumah tangganya cukup selektif, sedari di rumah pun kami punya lebih dari satu macam tempat sampah. Tiap rumah berbeda-beda jumlahnya, tapi yang jelas, ketika mereka membuang sampah rumah tangga yang sudah terkumpul ke luar rumah, mereka harus memilahnya sesuai dengan container yang sudah disebutkan di atas.

Di apartemenku, contohnya, terdapat 4 macam tempat sampah: tempat sampah organik; tempat sampah plastik, kertas, kaleng, kaca; tempat sampah napkins kotor – yang ada di toilet; dan tempat sampah lainnya. Sekitar tiap 2-3 kali/minggu, sebelum di buang ke container yang berwarna-warni di luar, tentu sampah tersebut kita pilah-pilah lagi untuk memastikan segalanya akan cocok pada tempatnya. Awalnya aku merasa ini ribet banget, tapi lama-kelamaan terbiasa juga 🙂

Well, ini baru fenomena sampah di hulunya. Aku ngga begitu tahu kelanjutan nasib sampah-sampah ini sampai ke hilir. Apakah mereka benar-benar diperlakukan secara layak a.k.a diproses dengan baik secara sustainable dan aman untuk lingkungan? Mungkin menarik untuk diinvestigasi nanti! (Banyak maunya lo, Bel….sok lowong…. Proposal disertasi aja belom jadi)

Tapi, aku yakin managemen waste collection adalah awalan penting dari suatu rantai pengolahan sampah untuk kelestarian lingkungan.

Kalo di Indonesia, gimana ceritanya, ya? Aku pribadi dulu sering menemukan sampah tidak dibuang pada tempat sampah yang seharusnya. Satu celetukan dari teman dulu yang ngga pernah aku lupa,“Peduli amat. Paling juga nanti masuk truk sampah yang sama semuanya. Liat tu Bantar Gebang! Semua sampah dari softex sampe fotokopi ijazah menggunung jadi satu!”

Yha…begitulah perilaku yang didasari suuzon 😦

 

//Barcelona, 28 April 2018

Referensi: http://ajuntament.barcelona.cat/ecologiaurbana/en/services/the-city-works/maintenance-of-public-areas/waste-management-and-cleaning-services/household-waste-collection

 

 

 

 

Advertisements