Hidup Sehat Yang Akan Saya Rindukan

Hi!

Bela disini. Udah lama gak curhat, tapi terlalu mager untuk ngetik. So, I gave it a go with my webcam instead! lol

Semakin deket waktu untuk pulang, semakin sadar bahwa banyak hal yang harus disyukuri karena dapat kesempatan studi di salah satu kota terbaik dunia: London.

Curhat!

Sepertinya akan banyak curhatan-curhatan saya berikutnya. Tunggu saja sampai masa disertasi ini berakhir, huftt!

London, 16/08/2017

 

Indonesia Tobacco Epidemic as a Threat Towards Achieving SDGs

(This article was also published in The Jakarta Post digital version http://www.thejakartapost.com/academia/2017/05/31/tobacco-epidemic-a-threat-to-indonesias-bid-to-achieve-sdgs.html)

Today the world is celebrating World No Tobacco Day with a theme on “Tobacco: a threat to development”, brought up by World Health Organisation (WHO). It triggers countries to strengthen their tobacco control strategy as an important effort to achieve the 2030 goals of Sustainable Development. It will be way too hard to reduce one-third of premature deaths from non-communicable diseases (SDG target 3.4), cut a half of people living in poverty (SDG target 1.2), and combat climate change (SGD target 13) if we mistakenly perceive tobacco consumption as an opportunity rather than serious harm. Unfortunately, Indonesia still holds that belief.

According to the most recent WHO report, almost two out of three Indonesian males are current smokers who mostly started at ages of 15-19 years. The addiction has further pushed families into poverty as smoker could spend 14.5% the national median income to buy 10 of the cheapest cigarettes every day. This has led to 200,000 tobacco-related deaths annually, surpassing 150,000 tuberculosis attributable mortality in 2015. Furthermore, Indonesia suffers annual losses of Rp 500 trillion (US$ 37.5 billion) from the direct and indirect negative impacts of smoking, a number that outweighs the revenue gained from tobacco taxes which only contributes Rp 145 trillion (US$10.9 billion) every year. Thus, tobacco epidemic should not be treated as a mere health problem but also a crucial development issue.

However, tobacco industry in Indonesia still prevails to yield profits from people sufferings. It is estimated that cigarette sales in Indonesia were around 248 billion sticks in 2015 with 6.5% of annual growth rate, makes Indonesia as the second-largest cigarette market in Asia after China. Although more than half of their market share has been taken over by international firms, tobacco companies continue to proclaim themselves (and by some groups) as a tobacco farmers defender as well as the country’s heritage preserver. No wonder they could conveniently interfere tobacco control policy making, taking advantage of the already weak tobacco regulation in this country.

After tried to smuggle out an important paragraph stating “nicotine is an addictive and dangerous substance” from the 2009 Health Law, the tobacco industry has not stopped. They still made a move to bring the tobacco bill which included the cigarettes production growth target into the House of Representatives. Recently, the House announced that they might drop the bill if the government issues ministerial regulation adopting substances of this proposed bill. The relentless tobacco industry’s efforts bring benefits to none of tobacco farmers, labours, and the poor. Why?

First and foremost, tobacco industry provides less and less benefit for tobacco workers. Big companies, like Sampoerna whose more than 90% share owned by Philip Morris, keep cut-down the number of their labours and shift to machine-made cigarettes. In addition to growing mechanisation for these deadly sticks manufacture, cartel-like practices in tobacco trade have turned off small and local manufacturers who relied on manual hand-rolled cigarettes. Due to the weather and monopoly of tobacco industry, farmers who still plant tobacco crops only earn one-third of those who former tobacco farmers, at Rp 775,000 per month compared to Rp 2.5 million. In nature, tobacco is unsustainable crops which worth less than other crops such as potato, corn, rice, and tomato.  The most staggering fact is Indonesian and multinational tobacco firms make money off the backs and health of many child workers who exposed to hazardous nicotine, pesticides, and other toxic chemicals.

Secondly, tobacco farming harms the environment as it requires large amounts of pesticides and fertilisers, which can be toxic and pollute water supplies. This business uses 4.3 million hectares of land, resulting in global deforestation between 2% and 4%. About 1.69 billion pounds of cigarette butts wind up as toxic trash. Additionally, tobacco manufacturing produces over 2 million tonnes of solid waste. This figure clearly demonstrates that tobacco industry perpetuates climate change.

Lastly, tobacco endangers equality as the industry markets its product aggressively to women and children. Despite the hike of cigarette retail price almost every year, cigarettes are getting more affordable even for the poorest and youngsters. This potentially creates the economic gap even larger in the future. We could also lose our invaluable demographic bonus in the next 20-30 years if the young generation keeps puffing on the cigarettes either actively or passively. The last survey suggests the government should increase the cigarette prices threefold (Rp 50,000 per pack in average) to reduce 72% consumption. However, this might not come into force until the House amends the Law No 39 of 2007 which restricts the excise tax at a maximum of 57% of the retail price.

We should admit that tobacco destroys not only our body but also our growth as a sovereign nation. Therefore, smoking addiction is not merely a personal responsibility. The narrative of tobacco should go beyond ‘health’. Indeed, the government must take real action instead of only showcasing symbolistic celebration for Wold Tobacco Day every year. We failed to achieve most of Millennium Development Goals (MDGs) because we began too late and acted fragmentedly. Now, 2030 SDGs is a new opportunity to start it off again by prioritising and incorporating tobacco control in every development agenda. Likewise, as individuals, we can speak up against the myth spread by powerful tobacco industry who repeatedly sways public opinion.

Sebuah Babak Baru

London, 25 Oktober 2016

Hi, Mate! How are you doing? 

Nampaknya sapaan itu sudah mulai familiar di telingaku. Diucapkan dengan aksen British kental.

I am all good! – Jawabku

Ya, disinilah aku sebulan lebih tidak terasa. Kota London dengan segala hiruk-pikuk dan udara dinginnya yang tak kenal pagi, siang, atau malam. Namun, untungnya kota ini menawarkan berjuta pesonanya kepada penghuni ataupun turis yang tak lelah berfoto disana-sini. Dari mulai taman-taman hijau yang indah nan rapi, hingga bangunan tua bersejarah dari zaman tempo Inggris berdigdaya di dunia. Aku sangat menikmati pelayanan publik, yang sayangnya, belum bisa aku cicipi di Indonesia: trotoar ramah pejalan kaki, udara bebas polusi (meski orang-orang sini berkata sebaliknya), sistem transportasi yang apik, dan sistem informasi yang sangat komprehensif! Tidak ada alasan semestinya untuk mengeluh.

Semestinya.

...But I’m kinda a bit scared.. – Lanjutku

Ya, setelah aku mulai memasuki tahun akademik baru ini.

“Neoliberalism and Health: The Linkages and the Dangers” oleh Ted Schrecker

Adalah salah satu bacaan di daftar literatur untuk salah satu mata kuliahku. Sangat asing untukku yang memiliki latar belakang medis, yang selama ini hanya membaca artikel dari jurnal kesehatan medis: “Efektivitas terapi obat X untuk penyakit Y” atau mentok-mentok “Prevalensi penyakit X pada populasi Y”, atau semacamnya. Jadi bisa terbayang kan kemampuan rasionalisasi otak ini harus berdaptasi sebagaimana rupa sehingga tidak hanya menggunakan pola “eksakta” nya saja, tapi juga “sosial” nya, yang selama ini aku anggap ‘abstrak’.

Bukan hanya itu.

Kebetulan jurusanku adalah jurusan yang jadwal kuliahnya cukup padat. Empat hari seminggu, pagi hingga sore. Disaat jurusan teman-temanku yang lain (dan juga kampus lain) kebanyakan lebih jarang daripada itu. Bukan hanya dari segi jadwal, pelajarannya pun cukup sukar. Hmm, yah paling tidak untukku sendiri. Tiap kuliah harus diikuti dengan konsentrasi tinggi. Meleng sedikit, bubar. Belum lagi tantangan pengucapan aksen British yang digunakan dosen-dosen bervariasi. Jadi butuh usaha ekstra untukku yang telinganya belum mahir mendengar cuap-cuap mereka. Ah, belum lagi tugas essay-nya yang menuntutku untuk menuangkan ide panjang-lebar dan kritis. Kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat disini bagaikan “blessing in disguise” bagiku, karena disaat semua aktif berbicara di kelas, aku justru sibuk terpana dengan fenomena dinamisnya kelas, betapa teman-temanku punya pemikiran (dan pengalaman) sekeren dan semendalam itu. Saat itulah aku sering merasa inferior dengan budaya Indonesia yang pasif. Mengapa dulu aku tidak dididik untuk berpikir kritis untuk sebuah isu yang nampaknya sederhana?

Lalu aku terus dibayangi ketakutan akan tantangan-tantangan yang mungkin akan datang lebih banyak lagi.

Bayangkan, ini baru Term 1. Bagaimana kalau aku tidak bisa meningkatkan performaku ke depannya? Ada momen dimana belajar di perpustakaan tidak seasyik dulu, perjalanan balik ke rumah rasanya hampa, semua serba rutinitas monoton, telepon dari kampung halaman tak mampu mengubah suasana hati yang terlanjur muram, kepercayaan diriku turun.

Kota London perlahan, tapi pasti, jadi tidak secerah dulu. Musim dinginnya datang lebih cepat. Suram.

Tapi, hei.

It is what you’ve asked for, Bel!

Ya, menjejakkan kaki di tanah negeri Queen Elizabeth adalah mimpiku dari sejak masih duduk di sekolah tingkat menengah pertama! Apalagi bisa mengenyam pendidikan lanjut dengan beasiswa di salah satu kota terbaik di dunia! Tidak pernah lupa, dulu sering berkelakar dengan teman-teman tentang impian kita untuk mengarungi negeri ini dengan segala fantasi kita tentang idola kita masing-masing: David Beckham, Prince William, dan Daniel Radcliffe. Hingga sekarang impian itu terwujud. Magis!

Ya, menjejakkan kaki di salah satu kampus terbaik dunia dan belajar di bidang “Public Health” adalah juga impianku sejak masih duduk di bangku kuliah. Gemas karena tahu bahwa masalah-masalah kesehatan di Indonesia, baik kota maupun desa, tidak lepas dari determinan sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang masih ditelantarkan. Gemas karena masih banyak orang miskin lebih memilih beli rokok daripada susu untuk anaknya. Aku ingin berbakti kepada negeri dengan caraku sendiri, bukan hanya mengobati orang yang sudah terlanjur sakit.

Lalu aku berada pada titik itu, dimana menyadari bahwa Tuhan saat ini sedang berkehendak dalam kerahasiaan. Aku ada disini pasti adalah bagian dari rencana-Nya, kehendak-Nya! Dan apa yang Ia sudah tuliskan untuk setiap makhluk-Nya tidak akan berakhir sia-sia jika dijalankan dengan usaha terbaik serta ikhlas.

Aku pun mulai tersenyum. Sadar bahwa inilah yang dinamakan proses menjalani cita-citaku. Impian yang sudah kupupuk sejak lama dan saat ini kutuai sedikit demi sedikit. Terjal bukan hanya ada disaat menggapai mimpi, tapi juga saat menjalani mimpi itu sendiri. Sungguh Tuhan memang Maha Besar dan Maha Bijaksana, senantiasa memberikan ujian sehingga aku bisa terus bertumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik.

I am living my dream now!

Aku pun berada pada titik itu. Siap menjalani mimpiku,

siap memasuki babak baru 🙂

Biarkan Aku Pergi

Lampu bohlam di kamarku berkali-kali mengerling genit

Hidup segan, mati tak mau

Seolah mencemooh aku yang terlalu pengecut

Aku yang tak punya nyali

Berteriak di telingamu

Kuat-kuat

“Lepaskan aku!

Bebaskan aku!

Keluarkan aku dari hidupmu!”

/

Lambu bohlam kamarku saat ini hampir mati

Kali ini tidak boleh gagal!

ke ruang kerjamu

Aku dapati wajah lelahmu

duniamu

di balik tumpukan buku

Lalu,

Lagi,

Mata kita bertemu

Matamu

Ia kembali hidup

Lalu,

Lagi,

Kau kembangkan senyum itu

Tulus, yang tak pernah ubah

Sejak pertama kau menanyakan namaku, dulu

Lalu,

Lagi,

Kau beranjak dari singgasanamu

Berjalan pelan

tapi pasti

ke arahku,

Seperti saat kau menghampiriku

Di altar pernikahan, dulu

Lalu,

Lagi,

Kau memelukku erat

Hangat

Berbisik pelan

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi,

Aku cinta kamu”

Lidahku kelu

Tubuhku beku

Lalu,

Lagi,

Hanya dalam dengung hatiku

Dapatlah ku teriak

“Aku benci kamu!”

/

Aku pengecut

//

 

 

 

 

 

 

Adaptasi

//

Dear Love,

It’s been a while since I spammed your inbox with my annoying emails.

Disini dingin.

Tanpa kasur hangat kita yang jaraknya ribuan mil dari sini.

Dinginnya menusuk.

Merasuk dalam hingga ke paru dan sumsum tulangku.

Lebih perih daripada semua kata amarah,

yang pernah kau lontarkan kepadaku.

Tapi,

Aku menemukan jurus jitu.

Kopi

dan teh !

Hangat keduanya meramu berjuta memori indah

milik kita,

dulu.

Tiap malam aku bukan lagi meracik obat,

tapi Espresso, Latte, atau Earl Grey.

Tiap malam aku bukan lagi kehabisan kata,

untuk menyusun kata,

untuk membalas argumenmu,

dalam pertandingan adu mulut kita.

Tapi aku sibuk,

terlalu sibuk memilih gula atau susu,

yang pantas untuk masuk dalam cangkir kopiku.

/

Dear Love,

I just want to let you know that I am okay. Just like the way you shouted at me the last time we met, “I am okay without you!”

Aku cukup baik beradaptasi,

meski dinginnya makin buatku rindu

dengan kasur hangat kita yang jaraknya ribuan mil dari sini,

dan yang sudah lama kau tinggalkan.

//

 

 

Pijar

Dalam lamunannya, si gadis terjaga

Malam sudah sangat larut

Bulan tertutup awan gulita

Tapi hatinya tidak

Tidak sekelam langit di atasnya

 

Bintang enggan mengintip

Si gadis tak henti menyunggingkan senyum

Terbayang rahasia Tuhan yang esok akan menghampirinya

Menyambut idaman, cita, dan cintanya

Sejam

Dua jam

Selama-lamanya

Ia tak mau memejamkan mata

 

Rona merah di pipinya

Merayu gagak hitam yang bertengger di ranting

Untuk diam memandangi  si gadis yang manis

Karena sukma berpijar di wajahnya

 

Semua hanya semakin indah

Pikirnya

Mengapa HARUS Internsip di Timur Indonesia?

Memang tidak ada yang mengharuskan, kok. Tapi percayalah rugi besar kalau tidak dicoba 🙂

Ketika saya bilang daerah timur Indonesia bukan berarti hanya mengacu pada daerah di zona waktu indonesia timur (WIT) saja. Konteksnya lebih luas, yaitu meliputi daerah-daerah di timur Jawa dan Bali (make sense lah ya kenapa saya pakai dua pulau ini jadi patokan) yang level perkembangan manusia dan daerahnya masih rendah.

Why it matters? Actually I have tons of reasons, but here i summarized into several points.

  1. Menemukan bentuk lain Indonesia

Personally, inilah yang jadi tujuan utama saya kenapa memilih lokasi Internsip di luar Pulau Jawa. Indonesia ini luas! Saking luasnya bahkan sampai dibagi 3 zona waktu dan orang-orang yang tinggal di utara dengan selatan indonesia are totally different!

Di awal internsip, saya mulai sadar bahwa selama ini saya belum mengenal negara saya sendiri. Terlalu banyak perbedaan yang saya temukan, misalnya disini saya mencicipi makanan yang belum pernah saya makan sebelumnya seperti Papeda, gohu, pisang goreng dimakan dengan sambal, kemudian juga menikmati musik-musik ambon yang kadang di mix dengan house music yang sering di putar di angkot sini. Namun ternyata, itu semua hanyalah puncak gunung es. Perbedaan yang sebenarnya lebih banyak terletak pada persepsi dan kebiasaan masyarakat disini yang kadang di luar kewajaran. Bisa dikatakan, bagi kita yang biasa hidup di tanah Jawa atau urban, perilaku dan pemikiran mereka masih “primitif”.  Tentu saja primitif disini tidak selamanya buruk, misalnya persepsi tentang rezeki yang penting cukup untuk makan sehingga tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.

DSCF4491

Toilet Gantung atau Jamban! hampir ada di setiap rumah.

DSCF4540

Perawatan wajah Unik Ibu dan Anaknya. Perempuan menggunakan tumbukan kunyit dan bayi diberi tepung bedak tebal setiap selesai mandi.

Ketimpangan dan perbedaan yang ‘tidak masuk akal’ inilah yang membuat saya merasa bahwa apa yang dipertontonkan di televisi (yang mengaku TV nasional) saat ini sama sekali tidak merepresentasikan nasional, yaitu Indonesia secara keseluruhan. Heran kan berita banjir Jakarta dan ojek online, ditambah sinetron yang merefleksikan fenomena urban diputar-putar terus di TV padahal they have nothing to do with most of us (yes I said ‘most’ because apparently most of Indonesian live in rural area). Mentok-mentok pemberitaan seputar eksotisme alam dan budaya timur Indonesia, yang sering diidentikkan dengan laut, koteka, perang suku dan upacara-upacara adat. Padahal bentuk lain Indonesia di timur itu jauh lebih fundamental daripada itu. Ini akan kita rasakan bukan dengan hanya berkunjung satu atau dua minggu saja, tapi mesti melebur ke dalamnya lebih lama. Dan internsip adalah kesempatan yang baik kalau ingin menemukannya!

2. Melatih Kemandirian.

Well, sesuai dengan maklumat dari tujuan program internsip sendiri yaitu untuk melatih kemahiran dan kemandirian dalam menangani pasien. Jelas disini kita lebih mandiri membantu masalah medis pasien dari awal sampai akhir. Kita bisa membuat keputusan sendiri, otomatis tanggung jawab lebih besar daripada jaman koas. Tapi yang paling menarik adalah di daerah Timur kalian akan jauh dari rumah dan ‘dipaksa’ untuk jarang pulang. Biaya transportasi yang mahal dan kesulitan izin untuk durasi lama menjadi faktor tersering. Disinilah kita bisa jadi lebih mandiri, dewasa, dan bersabar.  Ga ada kata manja! Semua urusan rumah tangga, seperti masak, nyuci, nyapu, ngepel, kemana-mana ga ada lagi supir (kecuali supir angkot), All by yourself!

3. Kesempatan untuk berkontribusi lebih banyak

Daerah timur sudah terkenal dengan kekurangan tenaga kesehatannya. Jadi kita sebagai dokter internsip bisa berperan lebih banyak dan membantu kekurangan SDM medis. Selain itu, kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk membuat program yang bermanfaat untuk masyarakat. Misal: Kelas inspirasi, pengenalan kampus-kampus, pelatihan kader, lomba-lomba, dan sebagainya. Bahkan tidak jarang kita dianggap role model dan inspirator buat anak-anak muda disini!

4. You can learn new things!

When was the last time you did something for the first time?

DSCF4446

Memanjat pohon duku untuk pertama kalinya. Panen!

Kamu bisa menjawabnya dengan “kemarin”, “tadi pagi”, atau “baru aja tadi”, karena disini kamu memang bisa melakukan sesuatu yang baru setiap hari. Misalnya, saya pertama kali mengendarai motor, memasak sendiri, menyanyi lagu ambon, berdansa, menjadi guru di kelas anak SD, naik kapal malam sendiri, dan naik sepeda ke rawa-rawa di internsip ini. Saya juga hampir setiap hari menemukan hal-hal yang unik, baik yang berkaitan dengan pasien maupun tidak. Semakin banyak yang kita lakukan untuk pertama kali, semakin banyak pelajaran yang kita dapat. Akumulasi dari pelajaran yang bisa kita dapat dari anak sekolah, nelayan, bidan, petani, tentara, bahkan narapidana akan mampu mengubah pandangan kita terhadap hidup.

Semakin besar perbedaan antara kita dengan lingkungan, semakin banyak hal yang bisa kita pelajari

5. Bertemu dengan orang-orang baik dan hebat.

947360_10208342598270921_8646064647368744157_n

Pemegang toples adalah relawan Pengajar Muda IX Halsel yang sudah mau pulang (*sobbing*)

Hal yang membuat hidup ini harus dipandang dengan optimis adalah bangsa ini masih memiliki orang-orang baik dan tulus. Merekalah relawan! Di daerah timur banyak sekali relawan yang berbondong-bondong datang membantu pembangunan daerah, baik di bidang pendidikan, kesehatan, dan bidang lainnya. Mereka bisa dalam bentuk LSM atau yah individu saja. Berkolaborasi dengan mereka sungguh menyenangkan karena impact usaha kita, misalnya untuk menyehatkan masyarakat, bisa sangat terbantu. Yang lebih penting lagi, mereka seperti menularkan semangat berkontribusi ke orang-orang sekitarnya (termasuk saya) dan sangat inspirasional.

6. Lebih toleransi terhadap perbedaan

Jelas suasana di daerah timur dengan barat Indonesia sangat berbeda. Dari mulai orang-orangnya sampai budaya yang mereka ciptakan. Misalnya, orang-orang timur terkenal dengan cara bicara yang keras seolah sedang marah-marah, meskipun maksudnya bukan begitu. Lalu perbedaan kepercayaan dan kebiasaan yang mesti kita hormati sebagai bagian dari upaya saling menghormati satu sama lain. Nanti akan terlihat deh kalau perbedaan itu justru yang membentuk keindahan disini 🙂

7. Hidup santai!

Iya, santai kayak di pantai! Bisa dikatakan akibat tidak adanya macet, berangkat kerja tidak perlu subuh-subuh. Kerja pun pasien yang datang berobat relatif lebih sedikit dibandingkan di kota-kota besar di Jawa. Pulang masih segar karena tidak berdesak-desakan di angkutan umum. Sampai rumah masih bisa tidur siang J Butuh tempat untuk relaksasi? Alam disini bisa menjawabnya, tinggal jalan ke pinggir pantai menikmati sunsetnya dan anginnya yang sepoi-sepoi. Such an ultimate level of peace!

IMG_0954

This kind of cute smile, definitely may bring peace to everyone 🙂

Bagi saya pribadi yang membuat hidup saya lebih terasa santai disini karena saya tidak perlu khawatir dengan berbagai ancaman keamanan, misalnya copet, rampok, apalagi begal. Tingkat kriminalitas lebih rendah dibandingkan di kota-kota besar Jawa. Penerimaan warga saat terhadap orang luar saat ini sudah sangat baik, asalkan kita tetap menunjukkan sopan-santun. Jika ada yang membayangkan orang timur Indonesia bawa parang atau panah, saya bisa bilang jangan khawatir! Konflik itu memang pernah ada (seringnya konflik antarsuku), tapi saat ini, itu semua sudah jauhh berkurang. Kalaupun masih ada, konflik itu terjadi di pedalaman yang relatif jauh dari wahana internsip (wahana internsip pasti di ibukota kabupaten). Insya Allah sekarang sudah damai!

Oia, sangat disarankan untuk membina hubungan baik dengan TNI serta polisi yang bertugas di daerah setempat. Mereka sangat membantu untuk menjamin keamanan kita sebagai dokter dan sering membantu dalam banyak kegiatan kita.

8.Keluar dari zona nyaman.

Internsip di timur Indonesia sangat cocok untuk kalian yang suka tantangan! Tantangan alam: jalan berbatu, licin, berliku, puskesmas keliling naik kapal kecil, menginap tanpa air bersih, ombak besar, mati listrik, air terbatas, susah sinyal, dan masih banyak lagi.

Tantangan manusia: paling sering pasien! Sulit merujuk, penyakit yang “aneh-aneh”, beda bahasa, beda pemikiran, makanan asing di lidah dan lainnya.

Semua itu awalnya akan terasa tidak nyaman memang. Sering homesick di awal-awal. Tapi yakinlah, kita akan menikmatinya, lama kelamaan akan terbentuk zona nyaman yang baru, then you’ll find the new you!

9. Lebih bersyukur dengan apa yang kita punya.

Orang-orang disini memang secara finansial tidak sekaya orang-orang kota pada umumnya. Tapi yang membuat saya kagum, mereka tetap mensyukuri apa yang mereka miliki. Mereka tidak akan memforsir hidup untuk mendapatkan banyak uang. Bagi mereka hidup nyaman adalah bisa berkumpul dengan keluarga tercinta. Sesimple itu!

Saya pun belajar untuk menerima dan berterima kasih pada Allah atas apa yang saya miliki saat ini. Dan makin bersyukur lagi karena saya masih memiliki kesempatan bersekolah tinggi hingga menjadi saat ini. I couldn’t ask for more!

10. Indonesia itu indah alamnya!

Wah kalau yang ini tidak perlu disebutkan lagi! Daerah timur Indonesia menyimpan sejuta pesona alam. Karena masih belum banyak tereskplorasi dan dieksploitasi, keindahannya masih terjaga. Pasir putih, air laut jernih, terumbu karang warna-warni, ikan bernekaragam, langit biru, bintang bertaburan seperti pasir di langit. Untuk pegunungannya pun juga tidak kalah bagusnya, pendakian belum ramai, sampah-sampah belum banyak, dan banyak air terjun yang bisa dinikmati. Itu semua bisa ditemukan di setiap sudut timur Indonesia. Ditambah lagi dengan kesempatan kita menikmati alam tersebut secara unik, misal dengan naik kapal katingting (kapal tradisional berukuran kecil), sambil mancing (bukan dengan alat pancing yang modern) atau menombak ikan, naik motor ke atas gunung/bukit dengan jalan yang berbatu (challenging!), and so on! Apalagi kalau ada perawat, bidan, dokter spesialis, pembimbing yang suka jalan-jalan juga, wah bisa sering-sering liburan gratis!

P1000254

[Pulau Lelei, Halmahera Selatan] Melihat masterpiece seperti ini makin membuat kita bersyukur pada Allah dan cinta Indonesia 🙂

Jadi, buat kalian yang suka traveling dan foto/videografi, tempat-tempat di timur Indonesia adalah surga untuk kalian 🙂

11. Upgrading your health!

Why? Jelas karena polusi disini bisa dikatakan hampir tidak ada, baik polusi udara maupun polusi suara. Jalanan yang masih sepi dan jadwal yang tidak padat membuat kita berkesempatan untuk sering-sering jogging atau sekedar bersepeda pagi atau sore. Alternatif lain, kalau lokasi rumah dekat dengan pantai, bisa banget berenang setiap hari! Kadang kalau ojek atau angkot lagi ga ada (apalagi kalau niatnya irit) kita jadi sering berjalan kaki untuk pergi ke suatu tempat. Disini juga gampang kalau mau cari makanan yang sehat: sayur, buah-buahan, ikan. Jarang sekali makanan yang mengandung zat-zat berbahaya seperti beras plastik, borax, atau apalah itu lol

So, you definitely get enough food, enough sleep, and enough exercise!

 12. Lebih dihormati.

DSC_0926

Ketika dokter internsip dan dokter PTT berkumpul dengan Bupati Halsel dan Keluarga. Banyak privilege yang bisa kita dapatkan disini 🙂

Disini saya lebih sering dipanggil “ibu” atau “bu dokter” daripada nama oleh orang-orang, meskipun mereka tahu usia saya lebih muda daripada mereka. Dokter disini memang masih menjadi figur yang dihormati karena dianggap berjasa memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Dokter banyak dilibatkan dalam berbagai kegiatan kerelawanan dan pemerintah yang tidak berhubungan langsung dengan kesehatan. Bahkan tidak jarang masuk media (untuk pemberitaan positif tentunya) dan menjadi icon. Kami sebagai dokter juga sering diundang ke acara-acara syukuran, misal nikahan, ulang tahun, bahkan keagamaan meski tidak kenal dengan orang yang mengundang (lol) Tidak jarang pasien memberikan cindera-mata (berbagai rupa) sebagai bentuk ucapan terima kasih.

Bagi saya ini adalah suatu kehormatan bisa mendapatkan posisi yang baik di masyarakat. Ketika engkau dihormati, maka kamu akan didengarkan.

So, my last words would be….

Trust me it is ONLY a year, nothing to worry about. And you only live once! Don’t waste your time wandering around your current serenity which migh be a false one.  I bet this will be your best decision ever!

Good luck!

(Penulis adalah dokter internsip yang hampir selesai bertugas di Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara)